Panti asuhan
Kasih Bunda merupakan tempat favorit bagi Carista Syafira. Gadis berumur 16
tahun yang masih duduk di bangku SMA kelas 3. Di tempat ini, dia dapat berbagi
kepada anak-anak yang sangat membutuhkan kasih sayang dan belaian lembut dari
orang tua mereka yang telah tiada. Ntah karena meninggal dunia atau karena
dibuang begitu saja oleh orang tua mereka. Caris, begitulah teman-temannya
memanggil, merupakan gadis yang pendiam. Di sekolahnya, tak banyak yang
mengenal dia. Dia memang tidak suka terlalu mengekspos diri dengan tingkah yang
sedikit berlebihan atau mengikuti ajang perlombaan yang biasa diselenggarakan
di sekolah maupun di luar sekolah. Meskipun dia tidak terlalu diperhatikan
keberadaannya dengan teman-teman sekolah yang lainnya, tak jarang banyak kaum
adam yang menginginkan bisa dekat dengan dia dan ingin sekali rasanya
berkenalan dengan gadis berwajah oriental ini. Tapi, niat mereka selalu pudar
begitu saja jika melihat karakter gadis ini. Sungguh tertutup dan pendiam.
Ketika banyak
teman-temannya di luar sana
yang menghabiskan uang mereka untuk hang out atau sekedar membeli baju dengan
merk terkenal yang harganya selangit, sedangkan Caris tidak seperti kebanyakan temannya.
Bukan karena dia terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Bisa dikatakan bahwa
Caris merupakan pewaris tunggal perusahaan keluarganya. Tapi, dia tidak ingin
harta yang ia miliki hangus begitu saja untuk berfoya-foya. Jadi, dia sempatkan
diri untuk berbagi. Dan yang biasa ia bagi adalah Panti Asuhan Kasih Bunda yang
letaknya tidak jauh dari rumahnya.
“Hei, kak Caris
dateng,” ujar gadis kecil yang merupakan anggota panti tersebut.
“Hore kak Caris
dateng,” ujar anak-anak panti begitu antusias ketika melihat Caris.
Caris tersenyum
sumringah melihat anak-anak tak jauh dari hadapannya dan mereka segera menghambur
kepadanya. Dalam sekejap anak-anak itu sudah berada tepat di depannya. Mereka
menggandeng tangan Caris dan mengajaknya untuk duduk di teras panti. Caris
sangat suka keadaan seperti saat ini. Bisa tertawa dan berbagi dengan anak-anak
ini sungguh membuat hatinya tenang dan damai. Caris segera membuka plastik yang
ia genggam sedari tadi. Makanan dan minuman segera ia bagikan yang ditanggapi
begitu antusias kepada anak-anak panti ini. Dia disini hanya ingin melihat
keadaan mereka. Jauh di lubuk hatinya, dia sungguh menyayangi anak-anak ini.
Ketika Caris
sedang tersenyum melihat tingkah anak-anak ini, dia melihat ada seseorang yang
sedari tadi memerhatikan gerak-geriknya yang membuat Caris sedikit tidak
nyaman. Caris mencoba tenang dan tidak perduli dengan orang asing yang sedari
tadi memerhatikannya. Dalam hatinya, bertanya-tanya siapakah orang itu.
Akhirnya, Caris meninggalkan anak-anak panti dan mendekati orang tersebut
karena ada sebuah blitz dari kamera orang tersebut yang mengambil gambar Caris.
Caris sedikit tergesa mengejar orang tersebut. Tapi, Caris tidak dapat
menjangkaunya. Langkah kakinya tidak sebesar langkah orang tersebut. Dia hanya dapat
melihat bahwa orang itu adalah seorang laki-laki. Tapi, wajahnya tidak begitu
jelas terlihat. Dari postur tubuhnya, Caris bisa menebak lelaki tersebut masih
sebaya dengan dia. Dia sedikit bingung, mengapa lelaki tersebut mengambil foto
Caris. Caris buang jauh-jauh prasangka buruknya dan melanjutkan langkah menuju
rumahnya.
ùùù
Jarak sekolah
Caris tidak jauh dari rumahnya, oleh sebab itu, dia lebih suka menghabiskan
waktu ke sekolah dengan menggunakan sepeda sportnya. Sepeti biasa, Caris ke
sekolah bersama sepeda kesayangannya. Caris nggak sadar ada seseorang yang
mengambil fotonya yang tidak jauh darinya. Ya, seseorang itu adalah lelaki yang
kemarin juga mengambil foto Caris. Jika diperhatikan, lelaki tersebut
menggunakan pakaian yang kemarin ia gunakan. Tidak ada yang berbeda sedikit.
Caris terus
mengayuh sepedanya tanpa merasa terusik dengan blitz kamera yang terpancar dari
kamera lelaki tersebut. Tiba-tiba, sepeda yang dikendarai Caris menabrak sebuah
batu dan menyebabkan dirinya terjatuh. Lutut dan lengan Caris berdarah dan stang
sepedanya bengkok ke arah kanan. Caris mencoba untuk berdiri dan memapah
sepedanya. Tapi, sebelum ia berdiri, ada seorang lelaki duduk dihadapannya.
Caris yang masih terduduk hanya bisa diam mengamati lelaki di hadapannya. Seperti
terhipnotis, Caris hanya diam ketika lelaki tersebut mulai mengobati lutut dan
lengannya. Hanya sesekali ia merintih kesakitan menahan perih. Caris berusaha
mencerna semuanya, Caris merasa dia pernah bertemu lelaki ini.
“Hai, kamu yang
kemarin ya?” tanya Caris ketika lekaki itu selesai mengobatinya.
Tak ada respon
dari lelaki tersebut. Itu membuat Caris menjadi semakin penasaran. Sekali lagi
ia bertanya pada lelaki yang sudah berdiri dan memapah sepeda Caris. Caris
berusaha menyejajarkan langkahnya dengan lelaki itu.
“Hei, kenapa
diem aja? Aku nggak marah kok kamu ngambil foto aku diam-diam. Makasih udah mau
nolongin aku. Aku Cuma bingung, kenapa kamu ngambil foto aku? Apa ada seseorang
yang menyuruhmu untuk melakukannya?” tanya Caris tanpa cela.
Lagi-lagi lelaki
itu hanya terdiam dan terus melanjutkan langkahnya tanpa memerdulikan Caris
yang sedari tadi penasaran dengan lelaki ini. Ntah darimana asalnya, lelaki ini
sudah ada di lokasi ketika Caris terjatuh. Benar-benar membuat Caris sedikit
terkejut akan kehadiran lelaki tersebut.
“Okelah, kalau
kamu nggak mau kasih tau apa maksud dan tujuan kamu ngambil foto aku, aku hanya
ingin mengucapkan terima kasih banyak karena kamu udah menolong aku. Oh iya,
kenalin aku…,”
“Caris. Carista
Syafira. Aku udah tahu,” ujar lelaki itu memotong perkataan Caris. Caris
berpikir, mengapa lelaki misterius ini mengetahui namanya? Bahkan ama
lengkapnya. Jarang ada yang tahu nama lengkap gadis ini kecuali teman
sekelasnya. Caris semakin terheran-heran.
“Kok kamu bisa
tahu nama aku?” tanya Caris.
“Terlihat jelas
di name-tag kamu. Lebih baik kamu ke sekolah daripada terlambat,” ujar lelaki
itu menjelaskan. Caris segera melihat name-tag yang berada di seragamnya. Caris
segera mengutuk dirinya. Mengapa dia begitu kepedean? Caris melihat lelaki itu
menulis sesuatu di kertas. Ntah, menulis apa.
“Nih. Itu alamat
rumahku. Sepedamu biar aku yang ngehandle dan sekarang lebih baik kamu
berangkat sekolah,” ujar lelaki itu sambil memberikan kertas kepadaku.
“Eh, bentar.
Nama kamu siapa?” tanya Caris.
“Disitu ada,”
ujar lelaki itu sambil terus meninggalkan Caris yang masih terpaku di tempat.
Dia membaca apa yang ada di kertas tersebut. Alamat rumah dan sebuah nama. Nanti
pulang sekolah dia akan ke rumah Dimzy, nama lelaki misterius tersebut.
Dilipatnya kertas tersebut dan diselipkannya di kantong roknya. Caris menengok
ke belakang untuk melihat Dimzy. Tapi, kehampaan yang ia dapati. Cepat sekali
lelaki itu berjalan, pikir Caris.
ùùù
Caris kembali
memastikan alamat rumah yang ada di depannya dengan yang ada di kertas. Apakah
sesuai atau tidak. Ya, tepat. Inilah rumah Dizmy. Ditekannya bel rumah
minimalis ini. Caris menunggu pintu di buka oleh si empunya rumah. Beberapa
saat kemudian pintu terbuka dan Caris melihat wanita separuh baya sambil tersenyum
padanya. Ada
raut wajah heran dari wanita tersebut. Caris dapat menebak bahwa wanita yang
ada di depannya adalah ibu Dimzy. Wanita tersebut mempersilakan Caris masuk.
“Terima kasih,
Bu,” ujar Caris.
“Ada perlu apa mbak?” tanya
wanita tersebut. Wanita ini seolah-olah sedang memikirkan sesuatu, terlihat
dari keningnya yang mengerut.
“Saya Caris, Bu.
Mau bertemu Dimzy untuk mengambil sepeda saya,” jelas Caris.
Wanita tersebut
terkejut ketika Caris menyebutkan nama Dimzy. Ada sorot kesedihan disana. Caris jadi merasa
tidak enak. Apa dia salah mengucapkan nama itu? Tak ada reaksi dari wanita
tersebut. Beliau malah mengajak Caris ke sebuah ruangan di atas. Caris
mengikuti tanpa ada protes yang keluar dari mulutnya. Sebuah kamar. Ya, mereka
ke sebuah kamar. Caris semakin bertanya-tanya. Wanita tersebut mengajak Caris
duduk di pinggir sebuah ranjang kamar yang tidak terlalu luas.
“Ini kamar
Dimzy. Dulu dia menempati kamar ini. Tapi, tidak sekarang,” ujar wanita
tersebut.
Caris
membelalakan matanya. Dimzy kabur dari rumah? Ada apa? Segala pertanyaan hinggap di kepala
Caris. Apa yang sebenarnya terjadi? Caris menunggu wanita dihadapannya
bercerita. Caris hanya mengamati seluruh ruangan dan dia tertegun ketika dia
melihat dirinya ada di hampir seluruh dinding kamar ini.
“Itu benar kamu.
Dimzy sangat suka fotografer dan yang jadi objek favoritnya adalah kamu. Tidak
pernah dia menunjukkan hasil jepretannya kepada Ibu, kecuali gambar kamu dan
tak ada satupun yang ia pajang menghiasi kamarnya, selain gambar kamu. Dan
setiap kali dia menunjukkan gambar-gambarmu dari kameranya, dia selalu
tersenyum puas dan bahagia. Ibu tahu dia sedang jatuh cinta. Ibu sangat
menginginkan Dimzy mengenalkan kamu kepada Ibu. Tapi, ada sesuatu yang terjadi
pada Dimzy,” ujar wanita tersebut membuat Caris tidak bisa berkata apa-apa. Ada kebingunan dalam
dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Dimzy kemana saat ini? Yang Caris
butuhkan saat ini adalah sepedanya dan segera pulang. Sudah cukup bertemu Dimzy
si misterius. Kenapa hidupnya juga begitu misterius? Caris terus bertanya-tanya
dalam hati. Tapi, tak ia temukan jawabannya.
“Baca ini,”
lanjut wanita tersebut sambil menyerahkan sebuah buku catatan pada Caris dan
segera ia terima. Isi buku tersebut hampir berisi foto Caris. Caris membaca
singkat apa yang ada dalam isi buku tersebut. Hampir semua tulisan yang ada
dalam buku itu mengenai tentang dirinya. Hingga akhirnya ia tertarik dengan
sebuah bacaan yang merupakan cerita terakhir di buku itu.
29 Maret 2011 13.00
Hari ini aku harus bertemu Caris. Aku tidak
ingin dia tidak pernah mengenalku walau untuk sebentar saja. Aku tahu, aku
tidak boleh keluar. Penyakit ini sungguh menyiksaku. Aku tidak ingin penyakit
ini menghalangiku untuk berkenalan dengan gadis cantik itu. Hari ini aku harus
bertemu dengannya. Akan aku beri dia rajutan syal ini untuknya sebagai teman
terdekatnya. Aku ingin berbicara dengan dia. Hari ini pasti bisa terlaksana.
“Itu adalah
catatan terakhir yang dibuat oleh Dimzy. Dimzy sudah tiada, Caris. Dia
meninggal tepat seharusnya dia bertemu dengan kamu. Dia memiliki penyakit asma
yang bisa dibilang sudah terlalu akut. Dia belum boleh keluar rumah dan jangan
terlalu kecapekan. Tapi, dia benar-benar ingin bertemu kamu. Ketika Ibu sedang
masak bubur untuknya, Ibu mendengar ada yang terjatuh. Benar saja, Ibu melihat
Dimzy sudah tidak sadarkan diri di lantai bawah dengan darah mengucur. Ibu
tidak tahu pasti kenapa dia bisa terjatuh. Jika kamu bertemu Dimzy kemarin atau
tadi pagi, mungkin dia menginginkan kamu tau sebenarnya. Bawa aja semua ini.
Syal ini, catatan ini, merupakan milikmu. Mohon dijaga,” ujar wanita tersebut.
Cerita macam apa
ini? Caris benar-benar tidak bisa mencerna setiap perkataan dari wanita di
sampingnya. Dimzy sudah meninggal? Hah? Seketika Caris merasa pusing. Dia seperti
dipermainkan. Dimzy sudah meninggal? Pertanyaan itu terus muncul dalam
kepalanya. Dalam keadaan setengah percaya dan tidak percaya, Caris menerima
semua barang-barang milik Dimzy beserta syal merah muda dan segera berpamitan
pulang. Caris melihat sepedanya ada di halaman rumah Dimzy. Caris benar-benar
merasa kepalanya semakin berat.
ùùù
Setelah pulang
dari rumah Dizmy, Caris tidak ke panti tersebut, kepalanya terasa berat. Caris
menyenderkan kepalanya di tepi ranjang tempat tidurnya. Caris masih tidak bisa
menerima kenyataan, bahwa cowok yang ia lihat akhir-akhir ini sudah tiada.
Caris terus berpikir dan mencari jawaban yang masuk ke dalam loginya.
Lagi-lagi, inilah nyatanya. Dizmy sudah meninggal sebulan yang lalu.
Caris ingat akan
buku catatan dan syal yang Ibu Dimzy berikan kepadanya. Caris segera mengambil
tas yang ada di tepi meja belajarnya dan mengeluarkan buku dan syal tesebut
dari tasnya. Syal berwarna merah muda ia genggam erat. Merasakan getaran cinta
di setiap rajutannya. Caris menutup matanya dan membiarkan angin senja menerpa
wajah manisnya. Angannya membawa Caris ke dalam sebuah ruang yang ia pun tidak
tahu berada dimana. Dilihatnya seorang lelaki yang tak jauh dari hadapannya.
Dizmy.
“Hei,” ujar
Caris sambil memegang bahu Dimzy.
Seketika Dimzy
menengok. Wajahnya pucat pasi dan tak ada cahaya yang terpancar dari
pandangannya. Matanya tak sejernih pertama kali Caris melihatnya. Dimzy
berjalan menjauhi Caris. Tak ada yang bisa Caris lakukan selain diam mematung
menyaksikan Dimzy yang semakin jauh dari pandangannya. Dimzy terus berjalan dan
akhirnya benar-benar menghilang. Caris terbangun dari tidur sesaatnya, dia buka
buku catatan yang sedari tadi ia pegang. Ia membuka halaman demi halaman dengan
napas terengah seakan jantungnya lelah berkontraksi.
28 Maret 2011 05.00
Ini nyata. Aku mencintai gadis yang tidak
pernah aku ajak bicara. Bahkan dia tidak pernah melihat dan mengenalku. Apa
yang harus aku lakukan? Dada ini semakin bergejolak menahan cinta yang semakin
mengalir deras. Aku hanya berani mengambil fotonya diam-diam. Aku sungguh
pengecut!!!! Aku hanya tidak ingin dia tidak mengenalku hingga aku telah
menutup mata. Aku sungguh ingin bisa bercengkrama dengannya meski hanya
beberapa menit. Aku harus berani. Besok aku harus menemuinya! Carista Syafira. Syal
merah muda ini sudah aku rajut dan harus sampai ditangannya. Semoga dia senang.
Wish me luck.
Catatan sehari
sebelum Dimzy meninggal. Dia benar-benar sudah niat untuk mela
Caris meneteskan
airmatanya. Dia sadar, Dimzy memang sudah tiada. Dan dia meninggal sebelum
sempat dapat berkenalan dengan dirinya. Caris hanya ingin Dimzy tenang disana
setelah dia tahu apa yang terjadi sebenarnya. Mungkin Caris belum bisa
mencintai Dimzy seutuhnya, tapi, dia dapat merasakan aliran cinta yang deras
dalam diri Dimzy. Caris akan menyimpan semua ini. Selamanya.
TAMAT


0 komentar:
Posting Komentar