Pages



Senin, 12 Maret 2012

Terpisah Dimensi


Panti asuhan Kasih Bunda merupakan tempat favorit bagi Carista Syafira. Gadis berumur 16 tahun yang masih duduk di bangku SMA kelas 3. Di tempat ini, dia dapat berbagi kepada anak-anak yang sangat membutuhkan kasih sayang dan belaian lembut dari orang tua mereka yang telah tiada. Ntah karena meninggal dunia atau karena dibuang begitu saja oleh orang tua mereka. Caris, begitulah teman-temannya memanggil, merupakan gadis yang pendiam. Di sekolahnya, tak banyak yang mengenal dia. Dia memang tidak suka terlalu mengekspos diri dengan tingkah yang sedikit berlebihan atau mengikuti ajang perlombaan yang biasa diselenggarakan di sekolah maupun di luar sekolah. Meskipun dia tidak terlalu diperhatikan keberadaannya dengan teman-teman sekolah yang lainnya, tak jarang banyak kaum adam yang menginginkan bisa dekat dengan dia dan ingin sekali rasanya berkenalan dengan gadis berwajah oriental ini. Tapi, niat mereka selalu pudar begitu saja jika melihat karakter gadis ini. Sungguh tertutup dan pendiam.
Ketika banyak teman-temannya di luar sana yang menghabiskan uang mereka untuk hang out atau sekedar membeli baju dengan merk terkenal yang harganya selangit, sedangkan Caris tidak seperti kebanyakan temannya. Bukan karena dia terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Bisa dikatakan bahwa Caris merupakan pewaris tunggal perusahaan keluarganya. Tapi, dia tidak ingin harta yang ia miliki hangus begitu saja untuk berfoya-foya. Jadi, dia sempatkan diri untuk berbagi. Dan yang biasa ia bagi adalah Panti Asuhan Kasih Bunda yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.
“Hei, kak Caris dateng,” ujar gadis kecil yang merupakan anggota panti tersebut.
“Hore kak Caris dateng,” ujar anak-anak panti begitu antusias ketika melihat Caris.
Caris tersenyum sumringah melihat anak-anak tak jauh dari hadapannya dan mereka segera menghambur kepadanya. Dalam sekejap anak-anak itu sudah berada tepat di depannya. Mereka menggandeng tangan Caris dan mengajaknya untuk duduk di teras panti. Caris sangat suka keadaan seperti saat ini. Bisa tertawa dan berbagi dengan anak-anak ini sungguh membuat hatinya tenang dan damai. Caris segera membuka plastik yang ia genggam sedari tadi. Makanan dan minuman segera ia bagikan yang ditanggapi begitu antusias kepada anak-anak panti ini. Dia disini hanya ingin melihat keadaan mereka. Jauh di lubuk hatinya, dia sungguh menyayangi anak-anak ini.
Ketika Caris sedang tersenyum melihat tingkah anak-anak ini, dia melihat ada seseorang yang sedari tadi memerhatikan gerak-geriknya yang membuat Caris sedikit tidak nyaman. Caris mencoba tenang dan tidak perduli dengan orang asing yang sedari tadi memerhatikannya. Dalam hatinya, bertanya-tanya siapakah orang itu. Akhirnya, Caris meninggalkan anak-anak panti dan mendekati orang tersebut karena ada sebuah blitz dari kamera orang tersebut yang mengambil gambar Caris. Caris sedikit tergesa mengejar orang tersebut. Tapi, Caris tidak dapat menjangkaunya. Langkah kakinya tidak sebesar langkah orang tersebut. Dia hanya dapat melihat bahwa orang itu adalah seorang laki-laki. Tapi, wajahnya tidak begitu jelas terlihat. Dari postur tubuhnya, Caris bisa menebak lelaki tersebut masih sebaya dengan dia. Dia sedikit bingung, mengapa lelaki tersebut mengambil foto Caris. Caris buang jauh-jauh prasangka buruknya dan melanjutkan langkah menuju rumahnya.
ùùù
Jarak sekolah Caris tidak jauh dari rumahnya, oleh sebab itu, dia lebih suka menghabiskan waktu ke sekolah dengan menggunakan sepeda sportnya. Sepeti biasa, Caris ke sekolah bersama sepeda kesayangannya. Caris nggak sadar ada seseorang yang mengambil fotonya yang tidak jauh darinya. Ya, seseorang itu adalah lelaki yang kemarin juga mengambil foto Caris. Jika diperhatikan, lelaki tersebut menggunakan pakaian yang kemarin ia gunakan. Tidak ada yang berbeda sedikit.
Caris terus mengayuh sepedanya tanpa merasa terusik dengan blitz kamera yang terpancar dari kamera lelaki tersebut. Tiba-tiba, sepeda yang dikendarai Caris menabrak sebuah batu dan menyebabkan dirinya terjatuh. Lutut dan lengan Caris berdarah dan stang sepedanya bengkok ke arah kanan. Caris mencoba untuk berdiri dan memapah sepedanya. Tapi, sebelum ia berdiri, ada seorang lelaki duduk dihadapannya. Caris yang masih terduduk hanya bisa diam mengamati lelaki di hadapannya. Seperti terhipnotis, Caris hanya diam ketika lelaki tersebut mulai mengobati lutut dan lengannya. Hanya sesekali ia merintih kesakitan menahan perih. Caris berusaha mencerna semuanya, Caris merasa dia pernah bertemu lelaki ini.
“Hai, kamu yang kemarin ya?” tanya Caris ketika lekaki itu selesai mengobatinya.
Tak ada respon dari lelaki tersebut. Itu membuat Caris menjadi semakin penasaran. Sekali lagi ia bertanya pada lelaki yang sudah berdiri dan memapah sepeda Caris. Caris berusaha menyejajarkan langkahnya dengan lelaki itu.
“Hei, kenapa diem aja? Aku nggak marah kok kamu ngambil foto aku diam-diam. Makasih udah mau nolongin aku. Aku Cuma bingung, kenapa kamu ngambil foto aku? Apa ada seseorang yang menyuruhmu untuk melakukannya?” tanya Caris tanpa cela.
Lagi-lagi lelaki itu hanya terdiam dan terus melanjutkan langkahnya tanpa memerdulikan Caris yang sedari tadi penasaran dengan lelaki ini. Ntah darimana asalnya, lelaki ini sudah ada di lokasi ketika Caris terjatuh. Benar-benar membuat Caris sedikit terkejut akan kehadiran lelaki tersebut.
“Okelah, kalau kamu nggak mau kasih tau apa maksud dan tujuan kamu ngambil foto aku, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih banyak karena kamu udah menolong aku. Oh iya, kenalin aku…,”
“Caris. Carista Syafira. Aku udah tahu,” ujar lelaki itu memotong perkataan Caris. Caris berpikir, mengapa lelaki misterius ini mengetahui namanya? Bahkan ama lengkapnya. Jarang ada yang tahu nama lengkap gadis ini kecuali teman sekelasnya. Caris semakin terheran-heran.
“Kok kamu bisa tahu nama aku?” tanya Caris.
“Terlihat jelas di name-tag kamu. Lebih baik kamu ke sekolah daripada terlambat,” ujar lelaki itu menjelaskan. Caris segera melihat name-tag yang berada di seragamnya. Caris segera mengutuk dirinya. Mengapa dia begitu kepedean? Caris melihat lelaki itu menulis sesuatu di kertas. Ntah, menulis apa.
“Nih. Itu alamat rumahku. Sepedamu biar aku yang ngehandle dan sekarang lebih baik kamu berangkat sekolah,” ujar lelaki itu sambil memberikan kertas kepadaku.
“Eh, bentar. Nama kamu siapa?” tanya Caris.
“Disitu ada,” ujar lelaki itu sambil terus meninggalkan Caris yang masih terpaku di tempat. Dia membaca apa yang ada di kertas tersebut. Alamat rumah dan sebuah nama. Nanti pulang sekolah dia akan ke rumah Dimzy, nama lelaki misterius tersebut. Dilipatnya kertas tersebut dan diselipkannya di kantong roknya. Caris menengok ke belakang untuk melihat Dimzy. Tapi, kehampaan yang ia dapati. Cepat sekali lelaki itu berjalan, pikir Caris.
ùùù
Caris kembali memastikan alamat rumah yang ada di depannya dengan yang ada di kertas. Apakah sesuai atau tidak. Ya, tepat. Inilah rumah Dizmy. Ditekannya bel rumah minimalis ini. Caris menunggu pintu di buka oleh si empunya rumah. Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan Caris melihat wanita separuh baya sambil tersenyum padanya. Ada raut wajah heran dari wanita tersebut. Caris dapat menebak bahwa wanita yang ada di depannya adalah ibu Dimzy. Wanita tersebut mempersilakan Caris masuk.
“Terima kasih, Bu,” ujar Caris.
Ada perlu apa mbak?” tanya wanita tersebut. Wanita ini seolah-olah sedang memikirkan sesuatu, terlihat dari keningnya yang mengerut.
“Saya Caris, Bu. Mau bertemu Dimzy untuk mengambil sepeda saya,” jelas Caris.
Wanita tersebut terkejut ketika Caris menyebutkan nama Dimzy. Ada sorot kesedihan disana. Caris jadi merasa tidak enak. Apa dia salah mengucapkan nama itu? Tak ada reaksi dari wanita tersebut. Beliau malah mengajak Caris ke sebuah ruangan di atas. Caris mengikuti tanpa ada protes yang keluar dari mulutnya. Sebuah kamar. Ya, mereka ke sebuah kamar. Caris semakin bertanya-tanya. Wanita tersebut mengajak Caris duduk di pinggir sebuah ranjang kamar yang tidak terlalu luas.
“Ini kamar Dimzy. Dulu dia menempati kamar ini. Tapi, tidak sekarang,” ujar wanita tersebut.
Caris membelalakan matanya. Dimzy kabur dari rumah? Ada apa? Segala pertanyaan hinggap di kepala Caris. Apa yang sebenarnya terjadi? Caris menunggu wanita dihadapannya bercerita. Caris hanya mengamati seluruh ruangan dan dia tertegun ketika dia melihat dirinya ada di hampir seluruh dinding kamar ini.
“Itu benar kamu. Dimzy sangat suka fotografer dan yang jadi objek favoritnya adalah kamu. Tidak pernah dia menunjukkan hasil jepretannya kepada Ibu, kecuali gambar kamu dan tak ada satupun yang ia pajang menghiasi kamarnya, selain gambar kamu. Dan setiap kali dia menunjukkan gambar-gambarmu dari kameranya, dia selalu tersenyum puas dan bahagia. Ibu tahu dia sedang jatuh cinta. Ibu sangat menginginkan Dimzy mengenalkan kamu kepada Ibu. Tapi, ada sesuatu yang terjadi pada Dimzy,” ujar wanita tersebut membuat Caris tidak bisa berkata apa-apa. Ada kebingunan dalam dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Dimzy kemana saat ini? Yang Caris butuhkan saat ini adalah sepedanya dan segera pulang. Sudah cukup bertemu Dimzy si misterius. Kenapa hidupnya juga begitu misterius? Caris terus bertanya-tanya dalam hati. Tapi, tak ia temukan jawabannya.
“Baca ini,” lanjut wanita tersebut sambil menyerahkan sebuah buku catatan pada Caris dan segera ia terima. Isi buku tersebut hampir berisi foto Caris. Caris membaca singkat apa yang ada dalam isi buku tersebut. Hampir semua tulisan yang ada dalam buku itu mengenai tentang dirinya. Hingga akhirnya ia tertarik dengan sebuah bacaan yang merupakan cerita terakhir di buku itu.
29 Maret 2011 13.00
Hari ini aku harus bertemu Caris. Aku tidak ingin dia tidak pernah mengenalku walau untuk sebentar saja. Aku tahu, aku tidak boleh keluar. Penyakit ini sungguh menyiksaku. Aku tidak ingin penyakit ini menghalangiku untuk berkenalan dengan gadis cantik itu. Hari ini aku harus bertemu dengannya. Akan aku beri dia rajutan syal ini untuknya sebagai teman terdekatnya. Aku ingin berbicara dengan dia. Hari ini pasti bisa terlaksana.
“Itu adalah catatan terakhir yang dibuat oleh Dimzy. Dimzy sudah tiada, Caris. Dia meninggal tepat seharusnya dia bertemu dengan kamu. Dia memiliki penyakit asma yang bisa dibilang sudah terlalu akut. Dia belum boleh keluar rumah dan jangan terlalu kecapekan. Tapi, dia benar-benar ingin bertemu kamu. Ketika Ibu sedang masak bubur untuknya, Ibu mendengar ada yang terjatuh. Benar saja, Ibu melihat Dimzy sudah tidak sadarkan diri di lantai bawah dengan darah mengucur. Ibu tidak tahu pasti kenapa dia bisa terjatuh. Jika kamu bertemu Dimzy kemarin atau tadi pagi, mungkin dia menginginkan kamu tau sebenarnya. Bawa aja semua ini. Syal ini, catatan ini, merupakan milikmu. Mohon dijaga,” ujar wanita tersebut.
Cerita macam apa ini? Caris benar-benar tidak bisa mencerna setiap perkataan dari wanita di sampingnya. Dimzy sudah meninggal? Hah? Seketika Caris merasa pusing. Dia seperti dipermainkan. Dimzy sudah meninggal? Pertanyaan itu terus muncul dalam kepalanya. Dalam keadaan setengah percaya dan tidak percaya, Caris menerima semua barang-barang milik Dimzy beserta syal merah muda dan segera berpamitan pulang. Caris melihat sepedanya ada di halaman rumah Dimzy. Caris benar-benar merasa kepalanya semakin berat.
ùùù
Setelah pulang dari rumah Dizmy, Caris tidak ke panti tersebut, kepalanya terasa berat. Caris menyenderkan kepalanya di tepi ranjang tempat tidurnya. Caris masih tidak bisa menerima kenyataan, bahwa cowok yang ia lihat akhir-akhir ini sudah tiada. Caris terus berpikir dan mencari jawaban yang masuk ke dalam loginya. Lagi-lagi, inilah nyatanya. Dizmy sudah meninggal sebulan yang lalu.
Caris ingat akan buku catatan dan syal yang Ibu Dimzy berikan kepadanya. Caris segera mengambil tas yang ada di tepi meja belajarnya dan mengeluarkan buku dan syal tesebut dari tasnya. Syal berwarna merah muda ia genggam erat. Merasakan getaran cinta di setiap rajutannya. Caris menutup matanya dan membiarkan angin senja menerpa wajah manisnya. Angannya membawa Caris ke dalam sebuah ruang yang ia pun tidak tahu berada dimana. Dilihatnya seorang lelaki yang tak jauh dari hadapannya. Dizmy.
“Hei,” ujar Caris sambil memegang bahu Dimzy.
Seketika Dimzy menengok. Wajahnya pucat pasi dan tak ada cahaya yang terpancar dari pandangannya. Matanya tak sejernih pertama kali Caris melihatnya. Dimzy berjalan menjauhi Caris. Tak ada yang bisa Caris lakukan selain diam mematung menyaksikan Dimzy yang semakin jauh dari pandangannya. Dimzy terus berjalan dan akhirnya benar-benar menghilang. Caris terbangun dari tidur sesaatnya, dia buka buku catatan yang sedari tadi ia pegang. Ia membuka halaman demi halaman dengan napas terengah seakan jantungnya lelah berkontraksi.
28 Maret 2011 05.00
Ini nyata. Aku mencintai gadis yang tidak pernah aku ajak bicara. Bahkan dia tidak pernah melihat dan mengenalku. Apa yang harus aku lakukan? Dada ini semakin bergejolak menahan cinta yang semakin mengalir deras. Aku hanya berani mengambil fotonya diam-diam. Aku sungguh pengecut!!!! Aku hanya tidak ingin dia tidak mengenalku hingga aku telah menutup mata. Aku sungguh ingin bisa bercengkrama dengannya meski hanya beberapa menit. Aku harus berani. Besok aku harus menemuinya! Carista Syafira. Syal merah muda ini sudah aku rajut dan harus sampai ditangannya. Semoga dia senang. Wish me luck.
Catatan sehari sebelum Dimzy meninggal. Dia benar-benar sudah niat untuk mela
Caris meneteskan airmatanya. Dia sadar, Dimzy memang sudah tiada. Dan dia meninggal sebelum sempat dapat berkenalan dengan dirinya. Caris hanya ingin Dimzy tenang disana setelah dia tahu apa yang terjadi sebenarnya. Mungkin Caris belum bisa mencintai Dimzy seutuhnya, tapi, dia dapat merasakan aliran cinta yang deras dalam diri Dimzy. Caris akan menyimpan semua ini. Selamanya.
TAMAT

| Free Bussines? |

0 komentar:

Posting Komentar