Pages



Rabu, 29 Februari 2012

Berbeda???


Malam ini seperti malam-malam biasanya, terlalu indah untuk di lewatkan bagi gadis cantik berambut panjang yang sedang menatap kemerlap bintang di balkon kamarnya. Tak terasa segala kenangan menghampiri dirinya. Kenangan dimana dia memiliki seseorang yang benar-benar ia cintai dan kini semua hanyalah menjadi sebuah kenangan semata. Sebuah peristiwa yang membuatnya takut melangkah.
Gadis berkacamata ini berperang dengan memorinya sendiri. Sungguh dia tidak ingin mengenang kejadian memilukan itu. Gadis itu membenamkan wajahnya dengan kedua tangannya. Tak terasa matanya sudah banjir dengan airmata. Satu per satu kejadian menghampiri dirinya, seolah-olah sedang menonton film DVD yang dapat mem-flashback setiap bagian cerita yang kita inginkan. Tapi, sungguh! Gadis itu tidak menginginkan bagian cerita masa lalunya di flashback seperti saat ini. Semakin deras airmata yang mengalir membasahi wajah dan tangannya. Tubuhnya sedikit terguncang yang diakibatkan oleh isakan tangisannya sendiri. Ditekuk kakinya dengan kedua tangan melingkar di kakinya dan wajahnya ia tundukkan sehingga kening dan lututnya saling bersentuhan. Tangisannya semakin dalam. Segala kenangan membentur mata hatinya sehingga dia merasa begitu pilu.
­­���
“Gloriaaaaa!!! Tungguin aku!” ujar seorang gadis pada gadis berkacamata.
Dengan seketika gadis berkacamata itu menghentikan langkahnya. Einska Gloria Pratiwi. Gadis berambut panjang dan menggunakan kacamata merupakan gadis yang periang dan ceria. Selalu tersenyum kepada siapa saja, begitu manis. Ditambah lagi lesung pipi yang menghiasi wajahnya semakin mempermanis dirinya. Bulu mata lentik membuat matanya yang agak besar jadi semakin indah.
“Tumben kamu nggak bareng Tommy,” ujar gadis –yang penampilannya seperti cowok– ketika sudah dapat menjajarkan langkahnya dengan Gloria. Badannya lebih tinggi dari Gloria dan rambutnya tidak sepanjang Gloria. Potongan rambutnya pendek, tapi, tidak membuat kecantikannya lenyap begitu saja. Gloria dan gadis ini sungguh berbeda. Gloria cenderung feminim sedangkan cewek ini dikenal sebagai cewek tomboy.
“Tommy bangunnya telat lagi. Kebiasaan tuh anak kalo udah nonton bola aku nya pasti dilupain. Eh, Like udah ngerjain PR belum? Kebiasaan kamu kan nggak pernah ngerjain PR. Ayo, ke kelas. Ngerjain PR sambil nungguin Tommy. Tommy bentar lagi sampe kok,” ujar Gloria menggandeng lengan Like –cewek tomboy– menuju kelas XI IPA 3.
Gloria dan Like menuju kelas sambil tertawa bersama. Kini Gloria sudah ada dalam rangkulan Like. Terkadang Like mengacak-acak rambut Gloria sehingga si empunya rambut langsung cemberut ngambek. Dijawilnya hidung Gloria dan Like berlari meninggalkan Gloria yang berusaha mengejar dia.
“Seru amat woy!” ujar seorang cowok.
“Tommy? Aaah, kamu akhirnya dateng juga. Makanya jangan nonton bola muluk geh. Aku kan jadi nggak di jemput,” ujar Gloria sambil melepaskan rangkulan Like dan bergelayutan pada lengan Tommy. Kekasihnya.
Ada tatapan cemburu terpancar di mata Like melihat kedua sejoli dihadapannya. Gloria dan Tommy tidak sadar bahwa Like masih berdiam diri di tempatnya dan tidak mencoba untuk menyusul keduanya. Tatapannya seakan menikam keduanya. Like kembali berjalan, tapi, tidak untuk menyusul kedua sohibnya melainkan ntah pergi kemana. Hanya sekedar menormalkan kembali perasaan yang bergejolak di dadanya.
���
“Like, tadi kemana kamu? Pelajaran pertama kok nggak masuk?” tanya Gloria khawatir.
“Nggak apa-apa kok. Aku tadi lagi nggak enak badan. Tapi, sekarang udah nggak kok,” ujar Like tersenyum manis pada Gloria. Dengan segera Gloria meletakkan tangannya dikening Like. Matanya yang jenih berputar seolah-olah berpikir apa yang terjadi pada Like kemudia ia benarkan kembali posisi kacamatanya yang sedikit merosot.
“Kamu sakit karena nggak ngerjain PR, iya kan?” tebak Gloria seolah-olah dia dokter yang merangkap menjadi seorang detektif. Like terbahak menanggapi lelucon Gloria.
Dicubitnya pipi Gloria yang menggemaskan. Tapi, segera ia lepaskan tangannya dari pipi Gloria karena Tommy sudah berada di samping mereka. Seperti biasa, Tommy merangkul Gloria tanpa peduli ada Like disitu. Like tau bahwa Tommy sungguh menyayangi gadis mungil itu dan sebaliknya. Gejolak di dadanya kembali hadir. Inikah yang dinamakan cemburu? Mengapa begitu menyiksa? Like menarik napas dan kemudian ia hembuskan perlahan mencoba bersikap biasa saja. Gloria dapat membaca keanehan yang tersirat dari dalam diri Like. Tapi, ia acuhkan dan tidak mencoba untuk bertanya.
���
Terlihat Like di dalam kamarnya sedang melamun. Ntah apa yang dia lamunin. Tatapan begitu kosong seperti ada yang ia pikiran. Sesuatu yang runyam. Tiba-tiba Like teriak. Dia sadar tentang apa yang ia rasa. Itu salah! Benar-benar salah! Seharusnya dia tidak mencintai pacar sohibnya sendiri. Rasa cemburu kembali bergejolak ketika terngiang Tommy merangkul Gloria sambil tertawa mesra. Itu membuat hatinya seperti disayat sembilu. Perih. Sesuatu yang lebih salah adalah seseorang yang ia cintai bukanlah Tommy. Melainkan Gloria!!!
Selama ini Like tidak pernah merasakan jatuh cinta pada lelaki. Pikir dia belum ada lelaki yang dapat meluluhkan hatinya. Dari sekian banyak lelaki yang menginginkannya menjadi kekasihnya tidak ada yang dipilih dan ketika dia jatuh cinta pertama kali, perasaan itu jatuh pada temannya sendiri. Bukan Tommy melainkan Gloria. Dia bertanya-tanya. Mengapa?? Mengapa yang ia cintai adalah Gloria? Dia rasanya ingin menghajar Tommy ketika Gloria dalam dekapan kekasihnya. Tapi, dia tidak dapat berbuat apa-apa. Dia pun yakin, Gloria tidak akan menerimanya sebagai kekasih walaupun keadaannya dia tidak berpacaran dengan Tommy.
Like tau cinta datang sebenarnya tidak terduga. Waktu yang tidak terduga bahkan dengan seseorang yang tidak terduga. Tapi, dia tidak menginginkan memiliki perasaan seperti ini pada sesama jenis. Dia tidak tau harus menyalahkan siapa akan keadaan ini. Jika ingin memilih dia akan memilih untuk tidak menyukai sesama jenis. Tapi, inilah dia. Tidak normal. Like menyadari bahwa dia adalah seorang lesbian. Dia ingin menolak rasa ini, tapi, semakin ditolak perasaan ini semakin besar. Ingin sekali Like memiliki Gloria dan menjadikannya sebagai kekasihnya.
���
Semakin hari semakin dalam pula apa yang Like rasa pada Gloria. Pagi ini dia melihat Gloria dan Tommy menghampirinya, mereka berdua makin hari makin klop aja dan mereka tidak sadar bahwa Like menahan rasa cemburu melihat pemandangan itu.
“Like liat deh, Tommy dan aku beli pena sama loh. Kemaren mau beli tiga, satunya buat kamu satu, tapi, tinggal dua disananya. Terpaksa, kami beli dua. Bagus kan?” ujar Gloria memamerkan pena barunya dalam dekapan Tommy.
“Halah, anak kecil ini mah mintanya geh pena begituan. Dikasih tas nggak mau,” protes Tommy.
“Ini tuh lucu tau. Huuh, kamu geh udah kedewasaan. Udah yok, masuk kelas,” ujar Gloria sambil menggandeng tangan Like. Like membalas genggaman tangan Gloria dengan erat dan membuat Gloria menatap Like. Sungguh, Like menginginkan dirinya lah yang merangkul Gloria saat ini. Bukan Tommy!!
“Eh, eh, eh, ke pantai yok. Udah lama kita nggak ke pantai. Itung-itung refreshing lah,” ajak Like kepada kedua sohibnya.
“Wah, boleh juga tuh. Mau ya Tom,” ujar Gloria menyetujui ajakan Like.
“Waduh, aku nggak bisa loh sayang. Laen waktu aja gimana Ke?”
“Ayolah Tommy. Hari ini aja sih. Yayayayaya,” rengek Gloria.
Tommy menimbang-nimbang antara menyetujui atau mendengar rengekan Gloria dan akhirnya Tommy menyetujui ajakan Like. Seketika Gloria memeluk Tommy di depan Like. Like ingin sekali melepaskan pelukan Gloria. Dia nggak tahan melihat ini semua. Tapi, ia mencoba menahan rasa cemburu yang berperang di dalam dirinya.
���
Gloria, Tommy, dan Like sudah berada di pantai. Hari ini pantai tidak ramai seperti di saat weekend. Jadi, mereka bisa puas maen disini dengan bebas. Mereka bertiga bermain air laut bersama. Gloria dan Tommy semakin lengket saja. Lagi-lagi mereka tidak sadar ada sepasang mata penuh dengan kecemburuan melihat kemesraan mereka. Gloria dan Tommy sedang asyik bermain di bibir pantai menikmati keindahan pantai yang dapat menghipnotis mereka berdua. Gloria dalam rangkulan Tommy dan tangan Gloria berada di pinggang Tommy. Pemandangan yang menyesakkan bagi Like.
Angin menerpa wajah mereka berdua dan sebagian rambut Gloria menutupi wajahnya. Segera Tommy menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangan Gloria. Tommy menatap mata Gloria sambil tersenyum. Gadis berada di depannya ini benar-benar sungguh manis. Ditatapnya dalam-dalam gadis kesayangannya ini. Di dekatkan wajahnya pada wajah Gloria sekejap Gloria menutup matanya menunggu sesuatu terjadi pada dirinya.
Gloria menunggu apa yang akan terjadi dengan mata tertutup. Jantungnya berdegup dengan cepat. Digenggamnya tangan Tommy dengan erat dan sedetik kemudian Tommy berteriak yang membuat Gloria terkejut dan membuka matanya kembali. Dilihatnya Like memukul Tommy dengan sebuat bongkahan batu yang besar dan memiliki permukaan yang tajam. Batu tersebut dibenturkan ke kepala Tommy. Seketika Tommy jatuh bersimpuh dan Gloria yang kaget akan kejadian ini mendekati Tommy yang sudah dipenuhi darah. Gloria menangis melihat kekasihnya.
“Kamu gila ya, Ke? Apa maksud kamu memukul Tommy pake batu segede itu? Sakit jiwa!!!” ujar Gloria geram sambil memeluk Tommy. Bajunya dipenuhi darah yang mengalir dari kepala Tommy.
“Iya! Aku gila! Aku tergila-gila sama kamu Glo! Aku mencintai kamu!!!” jelas Like.
Gloria dan Tommy terkejut mendengar pengakuan Like. Like selama ini menaruh hati pada Gloria.
“Aku nggak suka Tommy terlalu dekat dengan kamu! Yang pantes milikin kamu tuh bukan dia tapi aku! Ngerti Glo! Aku mencintai kamu!!!” ujar Like sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya. Sebuah cutter!!
Gloria mencium maksud yang tidak enak ketika Like mengeluarkan cutter tajam itu. Diangkatnya Tommy yang sudah tidak kuat menopang tubuhnya sendiri. Didekapnya Tommy dalam pelukannya. Tommy benar-benar tidak dapat melakukan apa-apa. Like seperti orang kesetanan. Dia mencoba untuk menujah Tommy. Like dan Gloria berperang saling merebutkan Tommy. Gloria sebisa mungkin melindungi Tommy. Ketika Like melayangkan cutternya ke arah Tommy sekejap Gloria menarik Tommy sehingga lengan kanannya terluka.
“Sadar Ke!!! Aku nggak mungkin mencintai kamu! Aku nggak seperti kamu yang mencintai sesama jenis! Biarkan aku bersama Tommy!!! Jangan gila Ke!” teriak Gloria. Gloria benar-benar ingin melindungi Tommy. Dia tidak peduli apa pun yang akan terjadi pada dirinya. Like mengabaikan teriakan Gloria dan dia melukai kening Gloria dengan cutternya tersebut. Tanpa sadar, Gloria melepaskan Tommy dan memegangi keningnya yang terluka. Dengan leluasa Like menghujam tubuh Tommy dan sebisa mungkin Gloria melindungi Tommy. Tapi, apa daya sebuah cutter sudah menancap diperut Tommya. Gloria menangis di samping tubuh Tommy yang terkulai. Dia segera telpon orang tuanya dan orang tua Tommy. Tommy di bawa ke rumah sakit. Selama perjalanan ke rumah sakit, Tommy berada dalam pelukan Gloria dan tak henti-hentinya berkata bahwa dirinya sungguh mencintai Gloria. Gloria hanya bisa menangis. Sebelum Tommy benar-benar tidak terselamatkan. Dia berkata pada Gloria bahwa walaupun dia sudah pergi meninggalkan kekasih tercintanya, dia akan selalu ada di hati Gloria. Tommy sudah tidak bisa menahan semua rasa nyeri di sekujur tubuhnya, banyak darah yang keluar dan akhirnya dia meninggal ketika dalam perjalanan ke rumah sakit. Hari itu merupakan hari yang tragis bagi Gloria.
Seminggu setelah kejadian itu, Gloria dikabarkan bahwa Like meninggal di dalam penjara. Tekanan batinnya yang membuat dirinya melakukan hal seperti itu. Kekasih dan sahabatnya meninggal hanya berselang seminggu. Itu membuat Gloria down. Dan akhirnya, orang tua Gloria memutuskan untuk pindah rumah di luar kota. Orang tuanya tidak menginginkan Gloria semakin terpuruk. Meski sudah pindah pun, tidak mudah bagi Gloria untuk melupakan kejadian tragis seperti itu.
���
Gadis berkacamata itu terbangun dalam tidurnya. Ternyata tangisannya membuat dia ketiduran. Dia adalah Gloria. Sudah setahun dari kejadian memilukan itu. Gloria menghela napas dan menatap langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang. Malam ini membuat dirinya teringat pada peristiwa setahun yang lalu.
“Seharusnya aku tidak memaksa Tommy pergi ke pantai,” sesal Gloria.
Wajah Gloria diterpa angin malam. Gloria sadar, Tommy akan selalu ada dihatinya. Tidak akan pernah hilang Tommy dalam hatinya meski raga Tommy tidak dapat berada di samping Gloria. Gloria menghela napas dan masuk ke dalam kamarnya. Dia lihat foto Tommy yang tersenyum padanya dan dia pun ikut tersenyum. Tommy selaly dihatinya.
TAMAT
Read More..

Senin, 13 Februari 2012

Untitle


"Hmm, kenapa harus ini yang gue alami?" gumam seorang gadis di kamarnya.
Dia menatap langit yang sedang hujan.
"Langit, lo juga lagi sedih ya? Makanya lo nangis. Sama! Gue juga lagi sedih. Tapi, udah terlalu banyak airmata yang udah gue limpahkan," untuk kesekian kalinya airmata jatuh membasahi wajahnya. Matanya tak lepas memandang langit.
"Gue nggak bisa kayak gini terus, gue kangen dia!"Tidak ada yang merespon keluhannya karena memang disitu hanya ada gadis itu seorang. Sendiri!Hujan bertambah deras, langit menjadi semakin gelap meski waktu masih menunjukan pukul 14.00.

Teringat kembali ketika Jessica -nama gadis tersebut- masih duduk dibangku SMP kelas 3. Kira-kira 2 tahun yang lalu. Suasananya berbeda dibandingkan sekarang. Pada saat itu, Jessica merupakan cewek aktid dan pering, dia memiliki banyak teman dan yang lebih menyenangkan lagi adalah dia memiliki seorang sahabat lelaki bernama Beny. Mereka kompak banget. Berangkat sekolah selalu bersama, bermain bersama , ataupun sering berkunjung ke rumah masing-masing. Orang tua mereka pun sudah saling mengetahui karakter masing-masing dan nggak pernah sungkan lagi. Sudah dianggal sebagai bagian dari keluarga sendiri.
Minggu pagi, Beny sudah berada di rumah Jessica. "Hoi! Ngapainlah pagi-pagi udah ke rumah gue? Belum mandi tau, gue ini!" ujar Jessica yang kaget melihat Beny yang sudah cengengesan di ruang tamu.
"Mau numpang makan masakan nyokap lo. Ya, udah sih, sana mandi. Pantesan aja ada bau-bau apa gitu dari tadi." Beny menimpali perkataan Jessica sambil terus-terusan cengengesan.
Selesai Jessica mandi, Beny mengajak Jessica jalan-jalan. Mereka menghabiskan minggu ini dengan bermain di Timezone dan hunting barang-barang yang lagi diskon. Makan di court-food, foto di photobox, dan karaokean nggak jelas. Pokoknya have fun banget deh. Mereka pulang sekitar pukul 17.00.
Keesokan harinya, seperti biasa Beny selalu menjemput Jessica. Dimana ada Beny disitu ada Jessica, kecuali ke toilet lah ya. Banyak teman-teman yang menganggap mereka pacaran, tapi, mereka nggak peduli dengan komentar-komentar aneh seperti itu. Mereka hanya menikmati apa yang sedang mereka jalankan seperti saat-saat ini.
Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Jessica dan Beny bergegas keluar kelas dan menuju parkiran. Hari ini, jam 14.30 Jessica dan Beny ada jadwal les di tempat bimbel mereka. Kebetulan mereka bimbel di tempat yang sama dan kelas yang sama pula. Sekarang sudah menunjukan pukul 14.15 dan hari ini di tempat bimbelnya mengadakan Try Out. Karena tidak ingin ketinggalan dalam mengerjakan Try Out, Beny mengendarai motor dengan kecepatan yang lumayan kebut. Ketika Beny ingin menginjakan rem ternyata rem tersebut tidak berfungsi. Beny punya feeling buruk akan semua ini dan dia lebih mengutamakan keselamatan Jessica, sehingga helm yang ia kenakan, ia serahkan kepada Jessica karena pada saat itu Beny hanya membawa helm satu.
"Pakai ini!" ujar Beny sambil terus melajukan motornya.
"Hah?" Jessica agak bingung.
"Udah pake aja!"
Jessica menerima helm itu tanpa tau maksud Beny, mengapa dia memberikan helm kepadanya. Ketika mereka melewati jalan tanpa ada median (pembatas jalan) dan banyak sekali kendaraan yang melintas di jalan itu.
Ketika Beny ingin menyalip sebuah mobil yang ada di depannya, ada sebuah mobil box dari arah berlawanan dengan kecepatan yang lumayan tinggi, sehingga membuat Beny bingung, tak sempat mengelak, mobil box tersebut menabrak motor Beny. Jessica terpental ke trotoar, dia pingsan. Dan nasib Beny, dia terseret mobil box tersebut sejauh 10 meter dan bagian wajahnya tersungkur di aspal. Darah memenuhi jalanan. Banyak warga sekitar melihat kejadian itu dan mereka dilarikan ke rumah sakit. Tapi, kehendak berkata lain, Beny menghembuskan napas terakhir ketika kecelakaan itu yang berbeda dengan Jessica yang hanya luka ringan.
Cerita ini tidak akan pernah Jessica lupakan seumur hidupnya. Benny begitu berharga. Segala kenangan tentang Beny selalu Jessica ingat. Hingga Beny tak ada lagi di dunia ini.
"Seandainya lo nggak kasih helm itu ke gue. Seandainya gue nggak nerima tuh helm. Seandainya gue nggak lupa bawa helm. Aaarrgh! Gue kangen lo, Ben!"
Tak ada yang menjawab erangan Jessica hanya hembusan angin yang menerpa wajah Jessica lembut.
Jessica tersenyum "Dengan ini lo menjawab gue. Gue tau meski lo udah nggak ada di dunia ini, tapi, lo selalu hidup disini. Di hati gue! Gue sayang lo. Selamat jalan, Best Friend!"

TAMAT !
Read More..

Biaquotes


  • Pemenang sejati bukanlah dia yg menang. Melainkan dia yg mengingat jasa seseorang yg telah membuatnya menang.
  • Orang bodoh bukanlah mereka yg selalu mendapat nilai rendah di sekolahnya. Tapi, mereka yg selalu mengeluh dan mengeluh akan kehidupan yg mereka miliki. Bersyukurlah sedikit utk mengurangi kebodohan kita.
  • Aku dan kamu tuh layaknya reaksi kimia. Jika perasaan kita direaksikan maka akan menghasilkan senyawa kimia baru yang dinamakan dengan cinta.
  • Love is beautiful. More beautiful if we love right person.
  • Whatever you say, wherever you go, however you think. I'm always here for waiting you till you catch me with your love.
  • Telling the truth and hurting someone's heart is better than telling a lie and making them smile.
  • Faithfull, willingness, and patience are the key for getting real happiness.
  • Without problem, we can't know what the struggle is. Life is not about how much you get happiness but how you can get the happiness.
  • Perjuangan lebih berkelas daripada sesuatu yang instant.
  • Aku bukan penghantar yg bisa mematuhi hukum Ohm. Karena resistansi yg aku miliki hanya bisa bergantung terhadap besarnya cinta yg kmu berikan. 
  • Hidup bagaikan Hukum Faraday 1 yaitu massa zat kesuksesan yang terbentuk pada setiap manusia sebanding dengan seberapa kuat ikhtiar dan tawakal yang mengalir pada manusia tersebut.
  • Kita sekarang berada di simple present tense dengan kebiasaan-kebiaan positif yang kita miliki. Tapi, terkadang kita masih memikirkan kejadian-kejadian ketika kita masih berada di simple past tense. Sehingga membuat langkah kita menuju simple future tense sedikit terhambat . Kita tidak akan berpikir "akan" jika kita masih melihat apa itu "masa lalu". Long time ago hanya sebuah peristiwa dan pengalaman. Now adalah sebuah proses menuju Next time yang kita harapkan selama ini.
  • We have a beautiful dream. We are free to dream. So, wake up to realize our dream.
  • We'll know the feeling of happiness when we've felt a sadness. We can understand how much someone's love when they leave us alone.
  • Fall in love when you're ready not when you feel lonely.
  • Everything what you get, it's because of your hard work and your praying. And when u don't get what u want just keep trying. Cos God has another plan for us.
  • Sangat menyenangkan ketika membantu orang lain dan membuat bnyak orang tersenyum karena kita.
  • Happiness and sadness are a package.You'll get happiness when you've passed sadness. So, if you feel sad , just pass it! And you'll get real happiness.
  • Seperti halnya maxwell yg membuktikan gelombang elektromagnetik merupakan gabungan osilasi medan listrik dan magnet , sahabat pun seperti itu. Menggabungkan kepercayaan dan pengertian yg bila terus digunakan akan menyebar hingga menjadi sbuah kasih sayang yg tulus. Oleh sbab itu , mengapa tidak ada yang namanya mantan sahabat. Itulah makna sahabat sebenarnya.
  • Layaknya daun ketika berfotosintesis yang membutuhkan sinar matahari supaya bisa berkembang biak dan bertahan hidup. Begitu pula dengan hatiku yang membutuhkan sinar cintamu dan butir-butir kasih sayangmu supaya tidak layu.
  • Kebahagiaan dan kesedihan seseorang tidak sama seperti halnya hukum kekekalan energi yang tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Karna kebahgian dan kesedihan adalah satu paket yang harus dialami sehingga kita merasakan hidup yg sebenarnya. Kita tidak akan merasakan senang tanpa ada kesedihan. Begitu sbaliknya. Jadi, jangan pernah berpikir kebahagiaan dan kesedihan tidak dapat diciptkan dan dimusnahkan.
  • Ukuran setiap masalah yg kita hadapi tuh bagaikan Hukum Relativitas Einsten. Kita baru akan mengetahui apakah masalah kita masalah besar atau kecil ketika kita membandingkannya. Relatif! Yang bisa kita lakukan hanya tetap semangat dan selalu berusaha.
  • Lebih baik memilik seorang sahabat daripada seribu teman tapi pengkhianat! Mencari teman yg tulus saat ini lebih susah daripada mencari uang! So, keep your precious friend!
  • Kita hidup ini bagaikan Hukum III Newton yaitu ada aksi maka lahirlah reaksi. So, positive kan lah aksi mu supaya positive pula reaksi yg kalian dapatkan.
  • If my apology is more considerable than my anger. It means, you're my precious and my love is so deep for you.
  • If you don't love me, please don't lie me. Don't give me fake loving. Don't be a fake lover. I need your sincerity.
  • If you ask me, why do I love you? It means that I want to be with you ever after, to give you happiness and to decrease your sadness in your lifetime.
  • Love, happiness, and willingness are a package for making our life colorful.
Read More..

Simfoni Kehidupan


Hai, saya Jerry Hermansyah, silahkan panggil saya Jerry. Ingin rasanya saya bernostlagia tentang masa lalu saya, ketika itu saya masih duduk di bangku kelas 5 SD dan saya bersekolah di salah satu sekolah dasar milik pemerintah di kawasan Lampung dan saat itu pula lah merupakan awal dari kehidupan sebenarnya. Saya tinggal di sebuah rumah yang bisa dikatakan sangat minim jika harus dihuni 5 orang. Saya, ibu, bapak, dan kedua adik saya yang masih kelas 1 SD dan berumur 3 tahun. Tidak terlalu sempit dan nyaman. Memang benar jika kebanyakan orang mengatakan “Home Sweet Home” saya pun merasakan hal yang serupa.
Sebenarnya, tidak terlalu menarik untuk diceritakan bagaimana kehidupan dan keadaan saya. Saya sedikit suka berbagi cerita saja sih, ya, bisa dibilang lah untuk saling berbagi pengalaman. Saya sangat suka bercerita dan saya memiliki cita-cita yaitu dapat memiliki tempat penerbitan sendiri yang ceritanya bergenre perjuangan dan pengorbanan hidup seseorang. Ya, untuk memberikan sedikit motivasi lah. Di luar sana masih banyak orang-orang yang tidak mengerti apa sebenarnya kehidupan ini. Tak jarang juga, kebanyakan dari mereka –apalagi yang memiliki banyak materi– menganggap hidup ini terlalu mudah, hanya meminta uang kepada orang tua mereka dan mereka akan memiliki segala yang mereka inginkan tanpa perjuangan sedikit pun. Cliiing dan mereka mendapatkannya. Benar-benar instan. Menurutku Perjuangan lebih berkelas daripada sesuatu yang instant.
Ketika mereka bertemu dengan orang-orang yang tidak seberuntung mereka, dengan mudahnya pula mereka meremehkan orang-orang yang tidak beruntung itu. Maaf, jika saya sedikit curhat disini. Saya hanya sedikit emosi melihat tingkah mereka yang selalu semena-mena dengan kami yang tergolong ekonomi kelas menengah ke bawah. Ya, benar! Saya adalah salah satu seseorang yang sering mendapat hinaan itu. Rata-rata mereka yang menghina saya adalah teman-teman sekelas saya. Ya, meski nggak semuanya sih. Saya bersekolah di sekolah yang bisa dibilang sedikit bergengsi. Harap digaris bawahi sedikit bergengsi. Aku sekolah disitu sedikit mendapat keringanan dari pihak sekolah. Selain karena saya tergolong dari anak-anak yang lemah ekonomi, saya juga tergolong anak yang pintar di sekolah. Oleh sebab itu, tambah banyak saja keringanan yang diberikan oleh pihak sekolah kepada saya. Jika saya tidak mendapatkan keringan itu, mana bisa orang tua saya menyekolahkan saya disitu, jika harus mengingat ibu saya hanya seorang tukang cuci dan bapak saya hanya seorang tukang becak yang jika penghasilannya digabungkan hanya cukup untuk biaya sehari-hari. Tapi, inilah hidupku dan saya menikmatinya. Percaya deh, saya menikmati semua yang Tuhan berikan pada keluarga ini.
♫ ♫ ♫
Kegiatan sehari-hari yang saya lalui tidak jauh berbeda dengan anak-anak sebayaku. Ke sekolah, bermain bersama, ada yang berkelompok  ya, begitulah kehidupan yang biasa dijalankan oleh kami. Tapi, ada sedikit yang berbeda antara saya dengan mereka. Setiap pagi saya selalu bangun jam 4, membantu ibu menanak nasi, harap maklum, kami masih menggunakan kayu bakar untuk memasak nasi tidak seperti yang lain yang menggunakan rice cooker atau apalah itu namanya hanya untuk memasak nasi. Setelah itu, kami sarapan pagi bersama dengan makanan seadanya. Saya selalu ingat untuk bersyukur meskipun makanan yang saya makan bukanlah makanan yang mewah, setidaknya saya dan kedua adik saya tidak kelaparan dan mengais-ngais sampah hanya mencari sisa-sisa makanan. Sebelum berangkat sekolah, saya harus mengantarkan koran ke rumah-rumah orang ditemani sepeda butut kesayangan saya.
Ketika di sekolah, saya tidak pernah berpikir menjadi yang pertama, tapi, saya selalu berpikir bagaimana saya melakukan segala sesuatu dengan maksimal dan saya selalu melakukan yang terbaik untuk perjalanan hidup saya. Di kelas pun saya tidak eksis seperti kebanyakan teman-teman saya yang selalu ingin maju ke depan kelas untuk menjawab pertanyaan yang guru berikan di papan tulis. Saya lebih suka mengamati mereka dari bangku ku yang letaknya di pojok paling belakang. Jika ada pertanyaan dan teman-teman ku tertunduk tidak dapat menjawab, biasanya saya diminta oleh guru saya untuk menjawab soal tersebut dan tepat saja aku bisa. Cuma ini kelebihan yang aku miliki untuk membuktikan kepada orang lain bahwa aku bukanlah pecundang.
♫ ♫ ♫
Setelah pulang sekolah, saya tidak dapat bermain bersama teman-temanku, seperti halnya bermain bola ataupun bermain permainan seru lainnya. Saya bersama sepeda butut saya harus ke kios. Tentu saja bukan kios milikku, saya hanya bekerja disitu untuk menjaga kios setelah pulang sekolah. Biasanya saya menjaga kios hingga pukul 4 sore. Selain untuk membantu ekonomi keluarga, saya juga mendapat bacaan gratis di kios ini. Jika nggak ada pelangaan, waktu yang saya miliki digunakan untuk membaca koleksi di kios ini, yah, itung-itung menambah pengetahuan secara gratis. Lumayan.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul 4 dan pemilik kios datang untuk membereskan kios, saya pun ikut membantu pemilik kios. Terkadang, saya suka diberi buku bacaan sebelum meninggalkan kios. Oleh sebab itu, koleksi buku yang ada di rumah saya menjadi semakin banyak dan tentu saja semua itu diberikan oleh pemilik kios. Awalnya, saya menolak atas kebaikan bos saya itu. Tapi, beliau bilang rejeki jangan ditolak, beliau memberikan buku kepada saya tidak setiap hari dan itu ia berikan karena kerja keras saya.
Sebelum pulang ke rumah, saya mampir ke warung dulu untuk membeli 2 bungkus roti untuk adikku yang telah menunggu di rumah. Walaupun tidak banyak, saya hanya ingin membuat adik-adikku merasa senang atas apa yang saya berikan. Penghasilan selama di kios pun selalu saya berikan kepada ibu. Walaupun tidak seberapa hasilnya, ibu selalu mengajarkan kami untuk selalu bersyukur. Saya benar-benar ingin membahagiakan ibu, bapak, dan adik-adik saya dengan kesederhanaan yang saya miliki.
Setelah sesampai di rumah, saya langsung membantu Ibu membuat memasak di dapur. Lantai di dapur masih menggunakan tanah, jadi, jika ingin ke dapur kita harus menggunakan alas kaki. Tidak banyak yang di masak, Ibu hanya memasak sayur tumis kangkung dan tempe goreng. Sungguh nikmat. Tapi, sebelum makan, aku membiasakan mandi terlebih dulu bersama adik lelaki ku yang masih kelas 1 SD. Letak kamar mandi di rumah ku terpisah dari rumah, jadi, jika ingin mandi atau buang air, kami harus berjalan 5 meter dari rumah. Tidak cukup jauh tapi, terkadang menyiksa. Tapi, lagi-lagi aku harus tetap bersyukur.
♫ ♫ ♫
Waktunya belajar. Saya sadar akan kondisi perekonomian orang tua ku. Oleh sebab itu, saya harus tau diri dengan keadaan ini. Belajar dengan keadaan lampu yang redup dan buku seadanya tidak membuat saya menjadi patah semangat. Saya hanya ingin memutar balikan kondisi saat ini dengan kerja keras saya. Saya tahu, Tuhan pasti punya rencana yang indah bagi hamba-Nya yang selalu bekerja keras, sabar, dan berdoa. Pernah saya baca di sebuah buku bacaan yang saya baca di kios bahwa Faithfull, willingness, and patience are the key for getting real happiness. Meski saya nggak tau pasti apa maksudnya, tapi, saya yakin tulisan itu memotivasi.
Dalam keadaan yang serba kekurangan ini, saya nggak mau jika harus dikasihani apalagi sampai harus meminta-minta dijalanan karena saya yakin saya memiliki kemampuan. Terkadang aku merasa iri dengan teman-teman yang lain, tanpa harus bersusah payah mengantarkan koran, menjaga kios, memiliki kamar mandi di dalam rumah, masak tidak perlu menggunakan kayu bakar, dan bisa membeli buku yang mereka inginkan. Saya hanya merasa sedikit iri, nggak apa-apa kan? Tapi, saya tidak menyesali aku terlahir di keluarga seperti ini. Karena di sinilah saya belajar mengerti apa itu arti kesederhanaan dan kerja keras. Keadaan ekonomi yang surut tidak akan pernah menyurutkan diriku untuk mewujudkan cita-cita ku membuat tempat penerbitan. Semua orang berhak memiliki impian. Begitu pula dengan saya dan saya tidak hanya ingin bermimpi, tapi, juga ingin mewujudkannya walau harus jatuh-bangun untuk menggapainya. Percayalah, hidup ini akan berarti jika ada perjuangannya.
♫ ♫ ♫
Kini saya sudah menjadi siswa SMA. Sungguh cepat perjalanan hidup ini dan kali ini saya mendapatkanfull scholarship dari pihak sekolah. Sungguh beruntung. Saya suka mengikuti perlombaan, bukan karena ingin eksis atau apa. Saya hanya mengincar hadiahnya, jika menang, uang yang dihasilkan sangat lumayan untuk membantu ekonomi keluarga ku. Hanya satu yang aku inginkan yaitu meringankan beban ekonomi keluarga ini. Saya tidak ingin, adik-adik saya harus bekerja keras seperti saya dahulu. Saya hanya ingin adik-adik saya memikirkan masa depan mereka tanpa terbebani masalah ekonomi. Biarkan saya yang susah, jangan adik saya. Saya tidak menginginkan adik-adik saya putus sekolah karena masalah biaya. Saya, ibu, dan bapak saling bahu-membahu untuk mencari nafkah.
Saya mendapatkan pelajaran dari salah satu hukum fisika dan saya ingin mengaplikasikan hukum tersebut dalam kehidupan ini yaitu Hukum Kekekalan Energi :Kebahagiaan dan kesedihan seseorang tidak sama seperti halnya hukum kekekalan energi yang tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Karna kebahagiaan dan kesedihan adalah satu paket yang harus dialami sehingga kita merasakan hidup yg sebenarnya. Kita tidak akan merasakan senang tanpa ada kesedihan. Begitu sbaliknya. Jadi, jangan pernah berpikir kebahagiaan dan kesedihan tidak dapat diciptkan dan dimusnahkan. Saya yakin, Tuhan akan memberikan kebahagiaan bagi kami. Kebahagiaan yang sesungguhnya. Saya percaya, Tuhan sangatlah baik dan mempunyai rencana yang begitu indah, saya hanya menunggu dan melakukan apa yang bisa saya lakukan. Biarkan Tuhan yang memberikan hasil apa yang bisa saya nikmati kelak. Tetap, saya menginginkan dapat memiliki tempat penerbitan sendiri yang isinya buku-buku yang dapat memotivasi banyak orang.
Mungkin inilah sedikit-banyak nya kehidupan yang saya jalani. Terlihat sangat pahit, tapi, saya akan tau apa itu manis setelah saya menikmati rasa pahit. Satu yang dapat saya ambil dari perjalanan hidup ini yaitu KERJA KERAS. Seburuk apapun ekonomi kita, seburuk apapun kita, kerja keras itu kunci utamanya untuk sukses dan disertai dengan kesabaran. Ingat We have a beautiful dream. We are free to dream. So, wake up to realize our dream.
Tak ada waktu bagiku untuk mengeluh dan mengeluh. Jika waktuku habis untuk mengeluh, saya bisa yakin kan bahwa saya tidak dapat mewujudkan apa yang saya inginkan selama ini. Saya hanya ingin mem-positive-kan aksi supaya positive pula reaksi yang akan saya dapatkan. Tak ada yang dapat menghentikan langkah ini dan saya pun tidak akan pernah berhenti meski harus tertatih karena Tuhan akan selalu menguatkan saya. Saya akan berusaha dan terus berusaha untuk merealisasikan impian saya!!!
TAMAT
Read More..

Lombalicious


Tidak mudah memang bagi seseorang yang ingin bersekolah di SMA Purna Dharma yang notabene-nya merupakan sekolah swasta terfavorite di daerah Lampung. Seragamnya yang begitu familiar. Tak ada seorang pun yang tidak tahu jika berpapasan dengan siswa-siswi SMA Purna Dharma. Selain, seragamnya yang begitu mencolok karena keanggunan motif seragam tersebut tapi juga karena almamater yang begitu keren sehingga membuat kebanyakan siswa-siswi dari SMA-SMA lain sedikit iri dan ingin sekali rasanya memiliki seragam dan almamater seindah itu. Tapi, sayangnya hanya orang-orang yang memiliki ekonomi menengah keataslah yang dapat menikmati seragam yang dikagum-kagumkan banyak orang tersebut. Gedungnya pun tak layak disebut dengan gedung persekolahan. Bukan! Ini bukan karena gedungnya yang reot atau banyak rayap yang menggerogoti bangku-bangku sekolah, melainkan gedungnya yang sangat megah. Gedung –yang berdiri tegak tak jauh dari jalan utama– ini memiliki 5 lantai. Masing-masing lantai difasilitasi oleh eskalator, lift, dan 6 toilet. Di lantai pertama, ada sebuah kantor kepala sekolah beserta para guru, dan beberapa ruang ekskul. Untuk siswa-siswi kelas X menggunakan lantai kedua untuk kelas mereka yang jumlah kelasnya ada 9 kelas dan masing-masing kelas difasilitasi locker. Lantai ketiga diisi oleh lab-lab, baik lab IPA, bahasa, ataupun komputer, ruang olahraga indoor, kantin bersama, dan aula. Lantai keempat untuk siswa-siswi kelas XI dan lantai paling atas untuk siswa-siswi kelas XII. SMA Purna Dharma pun memiliki taman sekolah yang begitu indah. Taman tersebut dilengkapi dengan gazzebo yang lumayan romantis karena atap gazzebo tersebut dihiasi bunga-bunga dan dedaunan yang merambat dengan rapih-nya. Di belakang taman ini, kita pula dapat melihat Yayasan Purna Dharma TK, SD, dan SMP. Hanya SMA Purna Dharma yang agak memisah beberapa meter dari Yayasan Purna Dharma. SMA Purna Dharma memiliki lapangan parkir yang cukup besar, terpisah antara motor dan mobil milik siswa dan guru. Dan di depan sekolah tersebut berdiri tegap gapura yang menambahkan suasana gagah bagi sekolah tersebut. SMA Purna Dharma. SMA paling mewah di Lampung.
Ω Ω Ω
Pukul 07.00 banyak siswa-siswi yang memasuki gedung SMA Purna Dharma. Ada beberapa siswa bergerombol, ada yang individual, ada yang menjahili adik-adik tingkat dan ada dua siswa yang begitu mencolok dari siswa-siswi yang lain karena mereka berdua terlihat begitu cool dan terkesan memiliki kharisma begitu kuat. Yang membuat mereka tampak berbeda adalah setiap siapapun yang berpapasan dengan mereka harus segera memberi jalan untuk mereka. Seolah-olah mereka adalah penguasa sekolah tersebut.
Tiba-tiba ada seseorang gadis yang tengah berlari menghampiri mereka. Napasnya terengah-engah. Gadis tersebut memegang lututnya sambil berusaha menghirup oksigen banyak-banyak. Kedua lelaki tersebut sontak berhenti dan memperhatikan tingkah gadis yang berada dihadapannya. Bukan hanya kedatangannya yang secara tiba-tiba yang mengejutkan kedua lelaki tersebut melainkan penampilan gadis tersebut yang terkesan urakan. Sepatu kets yang sudah tidak layak disebut dengan sepatu lagi karena sepatu tersebut sudah banyak tembelan yang melekat pada sepatu tersebut. Belum lagi seragam yang dekil melekat di tubuh mungil gadis tersebut.
“Eh, kalian bisa kasih tau aku dimana kantor kepala sekolah?” ujar gadis tersebut sambil mengatur napasnya.
Tapi, pertanyaan gadis tersebut tidak diindahkan oleh mereka. Mereka hanya menatap datar yang membuat gadis tersebut jadi salah tingkah.
“Baiklah. Aku Via. Vianinda Paradise. Siswi baru kelas XI,” ujar gadis tersebut nyengir sambil menjulurkan tangannya bermaksud mengajak kenalan.
Ya, siapa tau dengan cara tersebut salah satu diantara  mereka ada yang berbaik hati untuk mengantarkan dirinya ke ruang kepala sekolah. Tapi, lagi-lagi diantara mereka tidak ada yang menggubrisnya melainkan mereka segera meninggalkan gadis aneh ini.
“Eh, eh, kalian mau kemana? Kasih tau kenapa sih dimana kantor kepala sekolah. Urgent nih!”
Serentak kedua cowok tersebut menatap Via seolah-olah bertanya “Itu urusan gue?” dan kini gantian Via yang diam seribu bahasa. Pandangannya menyapu seluruh gedung. Sebelum dirinya dilahap oleh kedua cowok tersebut, dirinya membaca sebuah plank yang bertuliskan “Ruang Kepala Sekolah” dan dirinya segera mengibrit meninggalkan keduanya yang hanya bisa terbengong-bengong melihat gadis mungil bernama Via tersebut karena gadis tersebut memakai seragam yang berbeda.
Ω Ω Ω
Semua mata siswa-siswi XI IPA 4 tertuju pada satu objek yang berada di depan kelas. Via, gadis mungil yang menggunakan seragam lusuh, jelas bukan seragam kebanggaan Purna. Kegiatan itu membuat Via sedikit salah tingkah prihalnya tatapan mereka seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang aneh. Tatapan penuh tanya. Tapi, Via tidak mengambil pusing akan tatapan seluruh penghuni kelas XI IPA 4. Dirinya masih tidak menyangka bisa menjadi bagian sekolah ini. Setelah Via terkagum-kagum akan gedung sekolah ini, ia pun terkagum-kagum pada kelas yang ia tempati saat ini. Jauh berbeda dengan sekolahnya dahulu. Sampai-sampai Via sedikit kaget ketika dirinya diperintahkan untuk menjelaskan kepindahannya ini. Via menghela napas sebentar dan memulai bercerita.
Vianinda Paradise. Gadis mungil yang sejak berumur 4 tahun berada di panti asuhan. Kedua orang tuanya meninggal pada saat terjadi kebakaran di rumahnya. Dirinya sadar akan keterbatasan ekonomi yang ia miliki, ia semakin rajin dalam belajar untuk meraih cita-cita yang selama ini ia harap-harapkan, yaitu menjadi dokter spesialisasi kandungan. Cita-cita yang begitu tinggi untuk gadis yatim-piatu seperti dirinya. Tapi, semua itu tidak menyurutkan niatnya untuk menggapai impiannya yang begitu indah. Dia selalu banyak membaca. Buku-buku yang ia dapatkan dari sumbangan benar-benar dimanfaatkan untuk menambah ilmunya.
Dia sudah tercatat menjadi siswi cerdas sejak dirinya masih menikmati bangku sekolah dasar. Awal prestasinya ia raih sejak kelas 4 SD ketika mengikuti cerdas cermat antar kecamatan. Sudah banyak piagam dan piala yang ia miliki. Ketika SMP pun ia mengikuti olimpiade Fisika dan mendapat pelatihan khusus. Ketika SMA, kelas X ia bersekolah di SMA yang tergolong SMA biasa saja dibandingkan dengan SMA Purna Dharma. Ketika itu SMA Purna Dharma sedang mengadakan perlombaan yang kebanyakan pengikut perlombaan itu adalah kelas XI dan XII. Perlombaan itu dibagi beberapa bagian: akademik IPA, akademik IPS, story telling, speech contest, dan perlombaan non-akademik. Via yang masih kelas X mewakili sekolahnya dalam perlombaan ini. Kepala sekolah dan kepala yayasan turut serta menyaksikan perlombaan akbar itu dan melihat Via yang memiliki kemampuan luar biasa untuk ukuran siswa kelas X dapat menghipnotis keduanya. Sehingga, setelah kejadian tersebut dirinya mendapatkan kesempatan untuk bersekolah di SMA Purna Dharma dengan beasiswa full. Dan faktanya, Via yang seharusnya duduk di kelas X di sekolahnya dulu, kini dirinya telah menginjakan kaki di bangku kelas XI. Via yang beruntung. Kerja keras bisa merubah dirinya.
Ω Ω Ω
Beberapa bulan Via menikmati sekolah di SMA Purna Dharma, benar-benar menunjukan bahwa dirinya memang layak mendapatkan beasiswa full tersebut. Kehidupannya tidak seperti sinetron-sinetron yang ada adegan ngelabrak. Sejauh ini kehidupan dia fine-fine aja. Awalnya, dia memiliki rasa takut juga jika harus dapat hujatan dan hinaan dari teman-temannya mengingat dirinya bersekolah disitu karena mendapat beasiswa. Tapi, dia tidak menyangka teman-temannya sangat baik padanya. Begitu pula dengan Tian Fernando dan Rendra Puja Lesmana. Dua cowok yang ia temui ketika bertanya letak ruang kepala sekolah. Dan pertemuan kedua, mereka bertemu di ruang ekskul Scientific. Ekskul yang isinya anak-anak yang biasa mengikuti perlombaan dalam bidang akademik IPA. Dari kejadian itu, mereka akhirnya menjadi akrab seperti saat ini. Saling berbagi soal dan materi. Tadinya, belum ada seorang pun yang bisa mendekati Tian dan Rendra. Jadi, Via lagi-lagi beruntung bisa berteman dengan mereka yang menurut anak-anak Purna adalah pangeran Purna Dharma. Tian dan Rendra tidak seperti yang dibicarakan orang lain. Kaku dan misterius. Padahal Tian dan Rendra memiliki sisi humoris yang sangat kuat. Jika Via disamping mereka berdua bisa ketawa sampe sakit perut karena ulah konyol dua pangeran Purna ini. Dan hanya Via yang dapat menikmati kesempatan langka ini. 
Beberapa minggu lagi, Via cs akan mengikuti perlombaan kembali. Kali ini yang mengadakan perlombaan adalah  salah satu SMA Negeri di Lampung. Via, Tian dan Rendra masuk dalam satu tim. Mereka benar-benar berlatih secara intens dan berusaha keras walaupun mereka sering memenangkan perlombaan, semua itu tidak menjadikan mereka sebagai pribadi yang tinggi hati. Via benar-benar beruntung. Dahulu, dirinya hanya dapat mengandalkan buku-buku sumbangan, kini dirinya mampu menikmati buku-buku di perpustakaannya yang lengkap. Via benar-benar menikmati semua ini. Ditambah dengan kedua temannya yang bisa diajak sharing yang menyebabkan pengetahuan dirinya semakin bertambah.
Ω Ω Ω
Hari H pun tiba. Supporter SMA Purna Dharma sudah memadati ruang kelas yang digunakan untuk perlombaan akademik IPA berkelompok. Tim Purna Dharma akan bersaing dengan tim Bakti Luhur beberapa menit lagi. Setelah meminta doa kepada guru pendamping, Tim Purna Dharma yang beranggotakan Via, Tian dan Rendra sudah siap di tempat yang telah disediakan. Pertandingan dimulai dan berlangsung sangat memanas. Score dipapan terus kejar-kejaran. Seri. Soal terakhir untuk menentukan pemenang. Soal Biologi. Tapi, sebelum soal dibacakan, tiba-tiba salah seorang siswa dari tim lawan (Bakti Luhur) menekan bel dan meminta ijin bicara.
“Maaf, bapak dan ibu panitia, saya melihat siswi Purna melihat catatan. Jadi, ini jelas mutlak sekolah kami yang menang,”
Sekejap suasana ruangan langsung ricuh, semua mata tertuju Via yang tidak tau apa-apa. Via hanya bisa terbengong-bengong.
“Kenapa Anda baru angkat bicara? Apa Anda punya bukti?” tanya panitia pada siswa Bakti Luhur yang berbadan tinggi besar dengan kacamata tabal bertengker di wajahnya.
“Ya, saya punya bukti. Coba saja Bapak periksa di kotak pensil miliknya,”
“Serahkan kotak pensilmu!” ujar Pak panitia pada Via.
“Hah? Saya nggak melihat catatan, Pak. Serius. Bahkan saya nggak tau dikotak pensil saya ada catatan. Catatan apa juga saya nggak tau,” ujar Via membela diri.
“Serahkan!” paksa panitia. Via menyerahkan kotak pensil miliknya yang sudah lusuh. Dan benar saja, di dalam kotak pensil berwarna pink yang sudah pudar itu terdapat selembar catatan dan panitia yang memiliki kumis tebal itu sontak membacakan isi yang ada di lembar kertas tersebut.
“Cabe setengah kilo, bawang merah lima ribu, bawang putih seperempat, ini sih catatan belanja,” ujar panitia tersebut sambil mengulumkan senyum dan semua penghuni ruangan tertawa mendengar isi catatan tersebut. Wajah siswa Bakti yang memberitahu insiden itu tertunduk malu.
“Baik, perlombaan dengan soal terakhir kami lanjutkan. Tidak ada catatan mencurigakan, yang ada hanya catatan belanja. Dan bukan itu soal yang akan dipertanyakan. Baik, inilah soalnya. Ketika terjadi mitosis, proses pewarisan sifat pada sel anak akan menjadi tidak merata, bila terjadi gangguan pada salah satu organel. Organel yang dimaksud adalah?” ujar panitia pemberi soal.
Tanpa pikir panjang, Via membunyikan bel dan menghela napas sebentar kemudia ia segera menjawab, “sifat organisme ditentukan oleh gen yang terdapat dikromosom. Bila pada proses pewarisan sifat tidak merata, artinya pembagian kromosom pada saat mitosis tidak merata. Pada fase metafase mitosis, semua kromosom dengan perantaraan sentrosom, melekat pada spindel. Jadi, bila proses pembentukan spindel mengalami gangguan, akan berakibat terjadinya ketidakseimbangan penyebaran kromosom pada sel-sel anak hasil mitosis. Bahan pembentuk benang spindel berupa organel sel yaitu mikrotubulus,”
Sempurna! Jawaban yang begitu sempurna yang mengantarkan tim Purna Dharma menjadi juara. Semua siswa-siswi pada memberi selamat untuk mereka bertiga. Masih ada sisa-sisa tertawaan karena kejadian tadi ketika di ruangan.
“Kok, anak itu bisa ngomong gitu lah?” tanya Rendra.
“Iya, aku sampe kaget loh. Ternyata Cuma catatan belanja. Herannya kok dia bisa tau?” tambah Tian.
Via hanya tertawa dan berkata ,”mungkin dia mendengar tadi pagi aku bilang, catatan ini jangan sampe hilang, catatan yang sangat penting. Kemudian aku masukin deh nih catatan di kotak pensilku,” jelas Via.
Semuanya tertawa. Tertawa karena kejadian lucu dan Purna Dharma keluar sebagai pemenang seperti biasanya. Lomba kali ini sangat menyenangkan.
TAMAT
Read More..