Kucing. Siapa sih yang tidak tahu hewan
lucu yang satu ini? Hampir semua orang menyukai hewan berbulu imut ini. Mulai
dari kucing kampung sampai kucing berkelas, tetap saja, kucing ini terlihat
imut. Mungkin hanya kucing garong yang tidak disukai oleh masyarakat.
Kucing dapat menjadi teman kita dikala
sepi. Dan dapat dijadikan tempat curhat jika kita tidak memiliki teman ketika
sedang galau. Setia dan tanpa banyak omong, mungkin hanya suara mengeong-nya
saja yang menjadi backsound-nya.
Intinya, kucing merupakan hewan multi fungsi.
Tapi, ada satu mitos mengenai hewan
mamalia ini. Apakah itu?
õõõ
“Ben, jangan asal nendang kucing kayak
gitu. Pamali,”
“Pamali kenapa, Jo? Lo nggak lihat? Dari
tadi kucing ini berisik. Gue lagi sibuk dan nggak suka suaranya yang memekakan
telinga gue. Berisik! Kalau gue tidak menendang kucing bau itu, pasti deh, dia
nggak akan kabur. Nah, karena sekarang sudah tidak ada kucing yang mengganggu
gue, gue bisa fokus mengerjakan tugas,”
“Cara lo salah, Ben. Lagian, kucingnya
di luar. Kenapa lo harus menendang kucing tak bersalah itu?”
“Terserah! Walaupun di luar atau di
dalam kamar gue sekalipun, gue tetap merasa terganggu”
Dua sejoli itu terus saja bersitegang
karena perbedaan pendapat. Ben dan Jo adalah teman semenjak mereka menduduki
bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sekarang mereka sudah beranjak
dewasa. Lebih tepatnya, mereka sekarang menikmati masa perkuliahan di
universitas swasta di daerah mereka. Dan kebiasaan mereka adalah bergantian
menginap. Terkadang, Ben menginap di rumah Jo. Begitu pula sebaliknya. Asalkan
jangan Ben menginap di rumah Jo dan Jo menginap di rumah Ben.
Seperti halnya malam ini, Jo menginap di
rumah Ben. Sudah biasa, jadi, Jo tidak pernah canggung bila bertemu kedua
orangtua Ben. Orangtua Ben malah senang, jadi, mereka tidak perlu khawatir
dengan anak semata wayang mereka. Pergaulan jaman sekarang kan sudah tidak
benar. Daripada salah pergaulan, lebih baik menginap di rumahnya saja. Lebih
enak dilihat.
Ben masih asik mengamati layar laptop
sambil sesekali membolak-balik modul materi perkuliahannya. Sedangkan, Jo asik
sendiri dengan smartphone-nya.
Sesekali ia tersenyum sendiri selama menatap gadget-nya itu. Tapi, ada rasa khawatir di dalam senyumnya. Seperti
ada yang ia takutkan.
Ketika mereka sedang asik dengan
aktivitas mereka masing-masing, tiba-tiba suara kucing itu kembali mengusik
Ben. Ben berusaha untuk mengabaikannya, meski sesekali dia menggerutu sendiri.
Jo tidak memerdulikan suara kucing di luar. Dia tetap asik cengar-cengir
menatap layar BB-nya. Tapi, ada segurat rasa cemas dari wajah Jo. Keringat
mengalir dari dahi-nya.
Keadaan sunyi kembali. Sebelum suara
kucing itu terdengar kembali, Ben berinisiatif menggunakan I-pod silvernya. Dia
lebih nyaman ditemani suara alunan lagu daripada suara cempreng kucing di luar
sana. Sebuah lagu milik Simple Plan – Jetlag menemani Ben mengerjakan tugas.
Ben dapat tersenyum sumringah.
Samar-samar suara kucing itu terdengar.
Ben santai saja karena dia sudah menggunakan I-pod. Tapi, lama-kelamaan suara
kucing itu terdengar juga oleh telinga Ben. Ben mematiskan volume suara
I-pod-nya. Hampir full tetapi suara
kucing itu masih bisa ia dengar.
õõõ
Wajah Ben terlihat manyun pagi ini. Ya,
suara kucing semalam membuat dia empet sendiri. Sedangkan, Jo tenang-tenang
saja. Dia merangkul sobatnya tanpa beban. Niatnya sih supaya sobatnya yang
sensitif dengan suara kucing ini dapat relaks sedikit.
“Awas saja ya, kalau nanti malam kucing
itu masih berisik di depan kamar gue, gue nggak akan tinggal diam,”
“Eh busyet. Ngeri amat woy. Sudahlah,
sensi banget sih sama kucing,”
“Suaranya itu loh. Sudah malam bukannya
tidur, ini malah berisik,”
Jo hanya terkekeh. Dia mengajak sobatnya
yang masih keki dengan tingkah kucing ke kantin mahasiswa.
Di kantin, mereka memesan mie ayam-bakso
dan segelas jus jambu. Emang paling sedep, siang-siang begini makan mie ayam
dan jus jambu. Segala emosi akan luluh bersama kelezatan mie ayam.
“Ben, ada yang pengen gue certain,”
“Apaan?” Tanya Ben disela makannya.
“Hmm, lo tahu nggak, kalau ada kucing
mengeong malam-malam dan ngeongannya lirih seperti tadi malam, itu berarti ada
pocong di sekitarnya,”
“Pff! Hahahaha!”
Dengan suskses Ben tertawa. Menertawai
kekonyolan temannya ini.
“Kok malah ketawa sih? Gue serius loh,”
“Pppff. Sorry, sorry. Gue nggak habis pikir, ternyata lo percaya mitos yang
nggak berkualitas seperti itu ya. Ya, ampun Jo!” Ben berkata disela tawanya.
“Serius gue, Ben,”
“Iya, iya, lo serius. Dan kenapa gue nggak
boleh nendang kucing, itu pasti karena kucing itu jelmaan pocong. Hebat! Hari
ini, lo benar-benar bisa buat gue terhibur. Cocok banget lo jadi pelawak,”
“Terserah lo saja deh!”
õõõ
Ben sedang asik tiduran di kamarnya.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Ternyata, Jo yang bertamu di
rumahnya pada malam ini.
“Eits, tumben lewat pintu utama.
Biasanya juga langsung lewat situ,” ujar Ben sambil menunjuk pintu kamar yang
satunya lagi.
Pintu kamar Ben memang ada dua. Pertama,
menghubungkan dengan ruang keluarga. Dan satunya lagi menghubungkan dengan
halaman rumah.
“Bosen gue. Sekali-kali muncul di tempat
yang berbeda, nggak apa-apa kan?”
“Iya deh. Ngapain lo kesini? Bukannya lo
mau ke camping bareng anak-anak
Pencinta Alam?”
Jo hanya mengidikkan bahunya dan memilih
tiduran di ranjang kamar Ben yang bernuansa langit cerah.
“Yee, ditanyain malah begitu jawabnya,”
gerutu Ben.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30
tetapi Ben dan Jo masih asyik dengan Play
Station 2. Permainan soccer kali
ini membuat Ben kerja keras, pasalnya ia kalah telak dengan Jo. Tiba-tiba,
suara kucing menjadi backsound
permainan mereka. Tak mereka gubris, mereka tetap asyik menekan stick masing-masing. Tapi, lama-kelamaan
suara kucing tersebut makin lirih dan membuat Ben merasa terganggu dan beranjak
dari duduknya.
“Mau kemana, Ben?”
“Tuh suara kucing. Bikin empet saja,”
“Lo beneran nggak takut dengan pocong?”
“Peduli amat! Ini nggak ada kaitannya
dengan pocong atau makhluk gaje lainnya. Ini masalah suara kucing yang bikin
pengang kuping gue,”
“Parah lo ini! Hati-hati saja deh. Gue
nggak nanggung,”
Ben hanya mengibaskan tangannya dan
berjalan keluar kamarnya dan mencari kucing yang membuat malamnya menjadi
bising. Ketika ia membuka pintu, suara kucing samar-samar berhenti dan tak ia
temukan keberadaan kucing tersebut.
Pikir Ben kucing tersebut telah pergi
dan ia berniat kembali ke kamarnya. Tapi, baru saja ia tutup pintu kamarnya,
suara kucing itu kembali menyeruak. Ben membuka pintu dan ia tidak melihat
dimana kucing itu berada. Padahal suaranya sangat dekat dari kamarnya.
“Sial! Gue dikerjain sama kucing. Kucing
jaman sekarang tuh benar-benar nyebelin ya, Jo,”
Tidak ada sautan dari Jo dan Ben
menengok ke belakang. Ia tidak melihat Jo disana. Ben mengernyitkan keningnya.
Dia menduga, Jo lagi ke dapur dan sebentar lagi akan kembali. Tapi, lama ia
menunggu, kehadiran Jo tak kunjung datang. Suara kucing itu semakin lama
semakin lantang dan lirih. Ben merasa tidak nyaman dengan suara kucing seperti
itu. Ia jadi teringat dengan ucapan Jo yang mengatakan bahwa suara kucing
seperti ini tandanya ada pocong di sekitarnya. Buru-buru, ia tepiskan pikiran
negatif ini.
Suara kucing itu tak kunjung berhenti.
Ben mencium bau anyir dari halaman rumahnya. Entah mengapa, kaki Ben berjalan
keluar rumah. Ben mendapati Jo tak jauh dari teras kamarnya. Ia segera
mendekati Jo.
“Jo! Kemana saja sih lo ini? Kirain gue,
lo diculik pocong. Hahaha. Diculik pocong,” ujar Ben tertawa.
Ben kaget ketika Jo menengok ke arahnya.
Jelas, ini bukan Jo, temannya. Ben berusaha mundur. Wajah lelaki di hadapannya
sangat menyeramkan. Bibirnya pucat. Matanya tak bersinar. Yang paling
menyeramkan adalah pipinya yang terkelupas. Sehingga ia melihat ada belatung
dan daging yang keluar.
Ben berusaha untuk
mundur. Tapi, ia seperti menginjak sesuatu. Ben menengok ke belakang berharap
Jo yang ada disana. Bukan Jo yang ia dapati disana tetapi sesuatu yang
menggunakan kain kafan. Dekil dan berlumpur. Pocong! Ya, itu pocong. Dan yang
lebih mengagetikan Ben adalah wajah pocong itu mirip sekali dengan wajah lelaki
yang ia kira adalah Jo. Ben benar-benar lemas. Ben masih sempat melihat pocong
itu memiliki mata yang bolong dan banyak belatung keluar dari sana.
õõõ
“Lo kenapa sih, Ben?
Jangan kayak anak perempuan! Kasih tahu gue kalau gue ada salah sama lo,”
“Jo! Lo kemana semalam?
Lo pergi gitu saja dari rumah gue,”
Jo mengernyitkan
keningnya dan menjawab, “Maksud lo apa sih? Gue kan kemah,”
“Ah! Bohong lo! Lo kan
yang merencanakan semuanya? Pocong itu,”
Ben menceritakan
semuanya kepada Jo.
“Ben. Jujur, gue nggak
ke rumah lo. Tanya sama anak Pecinta Alam, ada dimana gue semalam,”
“Terus? Siapa yang ke
rumah gue, kalau bukan lo?”
Ben sangat kaget,
berarti semalam yang ada di kamarnya bukanlah Jo tetapi pocong yang ada di
halamannya. Ben sadar, seharusnya ia dapat menghargai arti mitos. Benar atau
tidak benar, semuanya harus dihargai. Ben berjanji tidak akan bicara seenaknya
lagi. Dia benar-benar kapok atas apa yang ia alami.
TAMAT


0 komentar:
Posting Komentar