Pages



Senin, 13 Agustus 2012

Suara Kucing Itu ......


Kucing. Siapa sih yang tidak tahu hewan lucu yang satu ini? Hampir semua orang menyukai hewan berbulu imut ini. Mulai dari kucing kampung sampai kucing berkelas, tetap saja, kucing ini terlihat imut. Mungkin hanya kucing garong yang tidak disukai oleh masyarakat.
Kucing dapat menjadi teman kita dikala sepi. Dan dapat dijadikan tempat curhat jika kita tidak memiliki teman ketika sedang galau. Setia dan tanpa banyak omong, mungkin hanya suara mengeong-nya saja yang menjadi backsound-nya. Intinya, kucing merupakan hewan multi fungsi.
Tapi, ada satu mitos mengenai hewan mamalia ini. Apakah itu?
õõõ
“Ben, jangan asal nendang kucing kayak gitu. Pamali,”
“Pamali kenapa, Jo? Lo nggak lihat? Dari tadi kucing ini berisik. Gue lagi sibuk dan nggak suka suaranya yang memekakan telinga gue. Berisik! Kalau gue tidak menendang kucing bau itu, pasti deh, dia nggak akan kabur. Nah, karena sekarang sudah tidak ada kucing yang mengganggu gue, gue bisa fokus mengerjakan tugas,”
“Cara lo salah, Ben. Lagian, kucingnya di luar. Kenapa lo harus menendang kucing tak bersalah itu?”
“Terserah! Walaupun di luar atau di dalam kamar gue sekalipun, gue tetap merasa terganggu”
Dua sejoli itu terus saja bersitegang karena perbedaan pendapat. Ben dan Jo adalah teman semenjak mereka menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sekarang mereka sudah beranjak dewasa. Lebih tepatnya, mereka sekarang menikmati masa perkuliahan di universitas swasta di daerah mereka. Dan kebiasaan mereka adalah bergantian menginap. Terkadang, Ben menginap di rumah Jo. Begitu pula sebaliknya. Asalkan jangan Ben menginap di rumah Jo dan Jo menginap di rumah Ben.
Seperti halnya malam ini, Jo menginap di rumah Ben. Sudah biasa, jadi, Jo tidak pernah canggung bila bertemu kedua orangtua Ben. Orangtua Ben malah senang, jadi, mereka tidak perlu khawatir dengan anak semata wayang mereka. Pergaulan jaman sekarang kan sudah tidak benar. Daripada salah pergaulan, lebih baik menginap di rumahnya saja. Lebih enak dilihat.
Ben masih asik mengamati layar laptop sambil sesekali membolak-balik modul materi perkuliahannya. Sedangkan, Jo asik sendiri dengan smartphone-nya. Sesekali ia tersenyum sendiri selama menatap gadget-nya itu. Tapi, ada rasa khawatir di dalam senyumnya. Seperti ada yang ia takutkan.
Ketika mereka sedang asik dengan aktivitas mereka masing-masing, tiba-tiba suara kucing itu kembali mengusik Ben. Ben berusaha untuk mengabaikannya, meski sesekali dia menggerutu sendiri. Jo tidak memerdulikan suara kucing di luar. Dia tetap asik cengar-cengir menatap layar BB-nya. Tapi, ada segurat rasa cemas dari wajah Jo. Keringat mengalir dari dahi-nya.
Keadaan sunyi kembali. Sebelum suara kucing itu terdengar kembali, Ben berinisiatif menggunakan I-pod silvernya. Dia lebih nyaman ditemani suara alunan lagu daripada suara cempreng kucing di luar sana. Sebuah lagu milik Simple Plan – Jetlag menemani Ben mengerjakan tugas. Ben dapat tersenyum sumringah.
Samar-samar suara kucing itu terdengar. Ben santai saja karena dia sudah menggunakan I-pod. Tapi, lama-kelamaan suara kucing itu terdengar juga oleh telinga Ben. Ben mematiskan volume suara I-pod-nya. Hampir full tetapi suara kucing itu masih bisa ia dengar.
õõõ
Wajah Ben terlihat manyun pagi ini. Ya, suara kucing semalam membuat dia empet sendiri. Sedangkan, Jo tenang-tenang saja. Dia merangkul sobatnya tanpa beban. Niatnya sih supaya sobatnya yang sensitif dengan suara kucing ini dapat relaks sedikit.
“Awas saja ya, kalau nanti malam kucing itu masih berisik di depan kamar gue, gue nggak akan tinggal diam,”
“Eh busyet. Ngeri amat woy. Sudahlah, sensi banget sih sama kucing,”
“Suaranya itu loh. Sudah malam bukannya tidur, ini malah berisik,”
Jo hanya terkekeh. Dia mengajak sobatnya yang masih keki dengan tingkah kucing ke kantin mahasiswa.
Di kantin, mereka memesan mie ayam-bakso dan segelas jus jambu. Emang paling sedep, siang-siang begini makan mie ayam dan jus jambu. Segala emosi akan luluh bersama kelezatan mie ayam.
“Ben, ada yang pengen gue certain,”
“Apaan?” Tanya Ben disela makannya.
“Hmm, lo tahu nggak, kalau ada kucing mengeong malam-malam dan ngeongannya lirih seperti tadi malam, itu berarti ada pocong di sekitarnya,”
“Pff! Hahahaha!”
Dengan suskses Ben tertawa. Menertawai kekonyolan temannya ini.
“Kok malah ketawa sih? Gue serius loh,”
“Pppff. Sorry, sorry. Gue nggak habis pikir, ternyata lo percaya mitos yang nggak berkualitas seperti itu ya. Ya, ampun Jo!” Ben berkata disela tawanya.
“Serius gue, Ben,”
“Iya, iya, lo serius. Dan kenapa gue nggak boleh nendang kucing, itu pasti karena kucing itu jelmaan pocong. Hebat! Hari ini, lo benar-benar bisa buat gue terhibur. Cocok banget lo jadi pelawak,”
“Terserah lo saja deh!”
õõõ
Ben sedang asik tiduran di kamarnya. Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Ternyata, Jo yang bertamu di rumahnya pada malam ini.
“Eits, tumben lewat pintu utama. Biasanya juga langsung lewat situ,” ujar Ben sambil menunjuk pintu kamar yang satunya lagi.
Pintu kamar Ben memang ada dua. Pertama, menghubungkan dengan ruang keluarga. Dan satunya lagi menghubungkan dengan halaman rumah.
“Bosen gue. Sekali-kali muncul di tempat yang berbeda, nggak apa-apa kan?”
“Iya deh. Ngapain lo kesini? Bukannya lo mau ke camping bareng anak-anak Pencinta Alam?”
Jo hanya mengidikkan bahunya dan memilih tiduran di ranjang kamar Ben yang bernuansa langit cerah.
“Yee, ditanyain malah begitu jawabnya,” gerutu Ben.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 tetapi Ben dan Jo masih asyik dengan Play Station 2. Permainan soccer kali ini membuat Ben kerja keras, pasalnya ia kalah telak dengan Jo. Tiba-tiba, suara kucing menjadi backsound permainan mereka. Tak mereka gubris, mereka tetap asyik menekan stick masing-masing. Tapi, lama-kelamaan suara kucing tersebut makin lirih dan membuat Ben merasa terganggu dan beranjak dari duduknya.
“Mau kemana, Ben?”
“Tuh suara kucing. Bikin empet saja,”
“Lo beneran nggak takut dengan pocong?”
“Peduli amat! Ini nggak ada kaitannya dengan pocong atau makhluk gaje lainnya. Ini masalah suara kucing yang bikin pengang kuping gue,”
“Parah lo ini! Hati-hati saja deh. Gue nggak nanggung,”
Ben hanya mengibaskan tangannya dan berjalan keluar kamarnya dan mencari kucing yang membuat malamnya menjadi bising. Ketika ia membuka pintu, suara kucing samar-samar berhenti dan tak ia temukan keberadaan kucing tersebut.
Pikir Ben kucing tersebut telah pergi dan ia berniat kembali ke kamarnya. Tapi, baru saja ia tutup pintu kamarnya, suara kucing itu kembali menyeruak. Ben membuka pintu dan ia tidak melihat dimana kucing itu berada. Padahal suaranya sangat dekat dari kamarnya.
“Sial! Gue dikerjain sama kucing. Kucing jaman sekarang tuh benar-benar nyebelin ya, Jo,”
Tidak ada sautan dari Jo dan Ben menengok ke belakang. Ia tidak melihat Jo disana. Ben mengernyitkan keningnya. Dia menduga, Jo lagi ke dapur dan sebentar lagi akan kembali. Tapi, lama ia menunggu, kehadiran Jo tak kunjung datang. Suara kucing itu semakin lama semakin lantang dan lirih. Ben merasa tidak nyaman dengan suara kucing seperti itu. Ia jadi teringat dengan ucapan Jo yang mengatakan bahwa suara kucing seperti ini tandanya ada pocong di sekitarnya. Buru-buru, ia tepiskan pikiran negatif ini.
Suara kucing itu tak kunjung berhenti. Ben mencium bau anyir dari halaman rumahnya. Entah mengapa, kaki Ben berjalan keluar rumah. Ben mendapati Jo tak jauh dari teras kamarnya. Ia segera mendekati Jo.
“Jo! Kemana saja sih lo ini? Kirain gue, lo diculik pocong. Hahaha. Diculik pocong,” ujar Ben tertawa.
Ben kaget ketika Jo menengok ke arahnya. Jelas, ini bukan Jo, temannya. Ben berusaha mundur. Wajah lelaki di hadapannya sangat menyeramkan. Bibirnya pucat. Matanya tak bersinar. Yang paling menyeramkan adalah pipinya yang terkelupas. Sehingga ia melihat ada belatung dan daging yang keluar.
Ben berusaha untuk mundur. Tapi, ia seperti menginjak sesuatu. Ben menengok ke belakang berharap Jo yang ada disana. Bukan Jo yang ia dapati disana tetapi sesuatu yang menggunakan kain kafan. Dekil dan berlumpur. Pocong! Ya, itu pocong. Dan yang lebih mengagetikan Ben adalah wajah pocong itu mirip sekali dengan wajah lelaki yang ia kira adalah Jo. Ben benar-benar lemas. Ben masih sempat melihat pocong itu memiliki mata yang bolong dan banyak belatung keluar dari sana.
õõõ
“Lo kenapa sih, Ben? Jangan kayak anak perempuan! Kasih tahu gue kalau gue ada salah sama lo,”
“Jo! Lo kemana semalam? Lo pergi gitu saja dari rumah gue,”
Jo mengernyitkan keningnya dan menjawab, “Maksud lo apa sih? Gue kan kemah,”
“Ah! Bohong lo! Lo kan yang merencanakan semuanya? Pocong itu,”
Ben menceritakan semuanya kepada Jo.
“Ben. Jujur, gue nggak ke rumah lo. Tanya sama anak Pecinta Alam, ada dimana gue semalam,”
“Terus? Siapa yang ke rumah gue, kalau bukan lo?”
Ben sangat kaget, berarti semalam yang ada di kamarnya bukanlah Jo tetapi pocong yang ada di halamannya. Ben sadar, seharusnya ia dapat menghargai arti mitos. Benar atau tidak benar, semuanya harus dihargai. Ben berjanji tidak akan bicara seenaknya lagi. Dia benar-benar kapok atas apa yang ia alami.
TAMAT

| Free Bussines? |

0 komentar:

Posting Komentar