Pages



Jumat, 17 Agustus 2012

Memory of August 17th


17 Agustus 2012.
Happy birthday Indonesia. Dirgahayu Negeriku Tercintah :*
Semoga semakin jaya dan korupsi semakin berkurang. Semoga pemerintahnya menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan, supaya tidak ada lagi yang dirugikan. Aamiin. Maaf pemirsah kalau aku malah curhat. Nggak mengandung SARA, kan? Menganduk anak kambing nggak apa-apa, kan? Hihihi. Maaf kalau garing. Angkat saja kalau sudah garing. Ngok!
Kalau 17-an begini, aku ingat jamannya masih kecil. Busyet, berasa sudah tua saja aku ini. Ingat, umur-ku masih 19 tahun, jadi, belum bisa dikategorikan tua. Masih unyuk dan menggemaskan kok. Muehehehehe. Memuji diri sendiri nggak dosa, kan? Kalau nggak suka, ya, nggak usah dilanjutin membacanya. Buahahaha. Lanjooot!
Jaman gue masih bau kencur dan ingusan, aseli, waktu kecil gue ingusan nggak berhenti-berhenti. Eits, ini kok malah membahas ingus sih? Back to the point. Jaman gue masih terlalu unyuk –masih ESDE– gue pernah ikut lomba di acara 17-an di kampung atau di sekolahku loh. Bangga sedikit nggak apa-apa, kan?
Ya, walaupun nggak menang, yang penting sudah pernah ikut berpartisipasi. Aku pernah ikut lomba makan kelereng. Hebat kan aku? Makanya jangan remehkan aku. Aku selain unyuk tetapi juga memiliki attitude yang agak nggak benar. Abnormal gitu deh. Nggak usah syok gitu bisa kali, ya? Biasa saja. Selama kelereng masih bulat dan perutku masih buncit, disitulah kambing pak lurah kelihatan tampannya. Ini apa hubungannya coba? Lupakan!
Well, ada satu pengalaman yang kalau diingat-ingat membuat aku pengen menjedotkan kepala di pohon toge. Pengalaman atau kenangan ya? Ya, intinya membuat aku malu. Malu untuk diceritakan. Tidak pantas anak-cucu-ku mengetahui cerita ini. Buahaha. Berasa mau nikah besok aja sih aku ini.
Jujur, jari-jariku tidak kuat untuk menuliskan ini. Tapi, indahnya berbagi membuatku harus tahan malu. Hmm, ketika aku masih kecil, aku sangat cengeng. Cengeng abis. Amit-amit kalau diingat-ingat. Cengengnya nggak ketulungan. Dan satu lagi, aku sebenarnya penakut tetapi penasaran. Nah loh.
Jadi, begini awal mulanya. Aku suka main di kampung orang lain karena disana ada teman sekolahku. Rata-rata teman sekolahku main di lapangan A bukan di lapangan B. Jadi, aku ikutan kesana. Nggak jauh. Ngesot pun masih bisa dijangkau kok. Jadi, aku ikutan lomba di lapangan A. Aku sudah mendaftarkan diri lomba balap kelereng. Tahu kan? Itu loh, kita gigit  ujung sendok dan ada kelereng di ujung satunya. Ngerti nggak? Kalau aku sih nggak ngerti. Hohoho.
Okay, sambil menunggu bagianku dipanggil, aku main-main dulu dengan teman-temanku disana. Mereka jahil sama aku, sebenernya, aku juga jahil tetapi aku cengeng. Eneg banget nggak tuh? Hiks. Kami disana bermai-main alakadar-nya. Maklum, jaman dulu masih suka main tanah bukan main gadget kece seperti anak-anak jaman sekarang. Nah, tiba-tiba salah satu temanku berkata, “Yola, kamu ikut lomba balap kelereng, kan? Sudah bawa sendok dan kelereng?”
Aku hanya bengong ketika temanku berkata seperti itu karena memang tidak ada pengumuman untuk membawa peralatan perlombaan masing-masing. Mukaku cengok banget. Kelihatan tololnya. Aku sadar dan aku hanya menggeleng.
“Hayo, Yola. Kamu nggak bisa ikutan lomba,” ujarnya menakutiku.
Mampuslah! Tambah bloon saja mukaku. Aku sedikit ketakutan. Pasalnya, aku tidak punya kelereng. Bukan karena nggak bisa membeli kelereng atau tidak suka main kelereng. Kelereng-ku sudah dibuang di sumur oleh kakakku. (Baca cerita kelereng).
“Aku pinjem punyamu sih,” rengekku.
“Nggak boleh.”
“Pelit betul. Pinjem sih.”
“Nggak mau.”
Aku langsung badmood seketika. Aku balik ke rumah ketika di jalan, samar-samar aku mendengar namaku dipanggil dari pengeras suara. Sial! Aku nggak ikutan lomba dan aku sadar, ternyata aku dikerjain sama temanku supaya dia nggak ada saingannya. Lolok banget, kan? Memalukan! Cengeng-cengeng begini, aku kayak anak laki kalau ikutan lomba. Bringasan gitu. Grasak-grusuk.
Karena tidak bisa ikut lomba, akhirnya, aku menangis di rumah. Benar-benar pengen ikutan lomba. Terpaksa, aku ikut lomba makan kelereng. Hehehe.
Selain itu, ada satu masa-masa dongok. Sudah aku bilang sebelumnya, kalau aku penakut tetapi penasaran. Jadi, biasanya setiap 17-an di tempatku suka mengadakan kuda lumping. Tahu kan? Tempat kalian ada tradisi itu nggak? Nah, mbakku suka melihat acara itu. Aku juga penasaran dengan kuda lumping. Dan satu lagi, katanya kuda lumping suka mengejar siapa saja yang memakai baju merah. Jadi, aku menggunakan baju bunga-bunga warna pink. Nggak mungkin kan aku dikejar. Aku kan unyuk.
Nah, mbakku nggak mau ngajak aku. Alasannya adalah karena aku penakut. Baru sampai, sudah ngajak pulang. Jadi, mbakku suka bete. Sudah, nggak usah menertawakan aku!
Jadi, saat itu mbakku ingin menonton kuda lumping di lapangan A. Dia sudah mengendap-endap supaya nggak kelihatan aku. Tapi, aku tahu kalau mbakku mau nonton kuda lumping. Jadi, aku mengintil mbakku.
“Yola, kamu nggak usah ikut. Sana.”
“Aku berani kok. Nggak takut.”
Akhirnya, mbakku pasrah. Dia mengajakku nonton. Setelah sampai, baru mendengar suara musiknya, aku sudah keder duluan. Entah, aku takut banget. Pengen pulang tetapi tadi aku kan sudah meyakinkan mbakku kalau aku tidak akan rewel. Aku hanya memegangi tangan mbakku. Dia mengajakku menonton lebih dekat tetapi aku menahannya. Bayangkan, jauh saja sudah membuat aku ketakutan, apalagi kalau dekat. Bisa-bisa kencing di celana aku.
“Sudahlah, kamu pulang saja sana. Nggak seru kalau nontonnya jauh,”
Aku hanya ikutin mbakku. Eh, kuda lumpingnya ngamuk. Apa sih namanya? Mabok ya? Pokokknya lebih agresif dari sebelumnya. Jadi, pada lari. Aku juga lari bersama mbakku. Aku gemetar banget saat itu.
“Pulang saja, yok,” ajakku.
Huray! Mbakku mengindahkan  pintaku. Jadi, kami pulang. Aku cengengesan.
“Ma, aku nggak mau ajak Yola lagi. Dia penakut,” ujar mbakku kepada mama.
Sial! Dia ngadu sama mamaku. Alamat disuruh tidur siang. Benar kan, mamaku menyuruhku tidur dan mbakku kembali ke lapangan untuk melihat kuda lumping. Ya, ampuuun! Sangat memalukan emang aku ini. Hiks. Kenangan 17-an jaman dulu.

| Free Bussines? |

0 komentar:

Posting Komentar