Tidak mudah memang bagi seseorang yang ingin bersekolah di SMA Purna Dharma yang notabene-nya merupakan sekolah swasta terfavorite di daerah Lampung. Seragamnya yang begitu familiar. Tak ada seorang pun yang tidak tahu jika berpapasan dengan siswa-siswi SMA Purna Dharma. Selain, seragamnya yang begitu mencolok karena keanggunan motif seragam tersebut tapi juga karena almamater yang begitu keren sehingga membuat kebanyakan siswa-siswi dari SMA-SMA lain sedikit iri dan ingin sekali rasanya memiliki seragam dan almamater seindah itu. Tapi, sayangnya hanya orang-orang yang memiliki ekonomi menengah keataslah yang dapat menikmati seragam yang dikagum-kagumkan banyak orang tersebut. Gedungnya pun tak layak disebut dengan gedung persekolahan. Bukan! Ini bukan karena gedungnya yang reot atau banyak rayap yang menggerogoti bangku-bangku sekolah, melainkan gedungnya yang sangat megah. Gedung –yang berdiri tegak tak jauh dari jalan utama– ini memiliki 5 lantai. Masing-masing lantai difasilitasi oleh eskalator, lift, dan 6 toilet. Di lantai pertama, ada sebuah kantor kepala sekolah beserta para guru, dan beberapa ruang ekskul. Untuk siswa-siswi kelas X menggunakan lantai kedua untuk kelas mereka yang jumlah kelasnya ada 9 kelas dan masing-masing kelas difasilitasi locker. Lantai ketiga diisi oleh lab-lab, baik lab IPA, bahasa, ataupun komputer, ruang olahraga indoor, kantin bersama, dan aula. Lantai keempat untuk siswa-siswi kelas XI dan lantai paling atas untuk siswa-siswi kelas XII. SMA Purna Dharma pun memiliki taman sekolah yang begitu indah. Taman tersebut dilengkapi dengan gazzebo yang lumayan romantis karena atap gazzebo tersebut dihiasi bunga-bunga dan dedaunan yang merambat dengan rapih-nya. Di belakang taman ini, kita pula dapat melihat Yayasan Purna Dharma TK, SD, dan SMP. Hanya SMA Purna Dharma yang agak memisah beberapa meter dari Yayasan Purna Dharma. SMA Purna Dharma memiliki lapangan parkir yang cukup besar, terpisah antara motor dan mobil milik siswa dan guru. Dan di depan sekolah tersebut berdiri tegap gapura yang menambahkan suasana gagah bagi sekolah tersebut. SMA Purna Dharma. SMA paling mewah di Lampung.
Ω Ω Ω
Pukul 07.00 banyak siswa-siswi yang memasuki gedung SMA Purna Dharma. Ada beberapa siswa bergerombol, ada yang individual, ada yang menjahili adik-adik tingkat dan ada dua siswa yang begitu mencolok dari siswa-siswi yang lain karena mereka berdua terlihat begitu cool dan terkesan memiliki kharisma begitu kuat. Yang membuat mereka tampak berbeda adalah setiap siapapun yang berpapasan dengan mereka harus segera memberi jalan untuk mereka. Seolah-olah mereka adalah penguasa sekolah tersebut.
Tiba-tiba ada seseorang gadis yang tengah berlari menghampiri mereka. Napasnya terengah-engah. Gadis tersebut memegang lututnya sambil berusaha menghirup oksigen banyak-banyak. Kedua lelaki tersebut sontak berhenti dan memperhatikan tingkah gadis yang berada dihadapannya. Bukan hanya kedatangannya yang secara tiba-tiba yang mengejutkan kedua lelaki tersebut melainkan penampilan gadis tersebut yang terkesan urakan. Sepatu kets yang sudah tidak layak disebut dengan sepatu lagi karena sepatu tersebut sudah banyak tembelan yang melekat pada sepatu tersebut. Belum lagi seragam yang dekil melekat di tubuh mungil gadis tersebut.
“Eh, kalian bisa kasih tau aku dimana kantor kepala sekolah?” ujar gadis tersebut sambil mengatur napasnya.
Tapi, pertanyaan gadis tersebut tidak diindahkan oleh mereka. Mereka hanya menatap datar yang membuat gadis tersebut jadi salah tingkah.
“Baiklah. Aku Via. Vianinda Paradise. Siswi baru kelas XI,” ujar gadis tersebut nyengir sambil menjulurkan tangannya bermaksud mengajak kenalan.
Ya, siapa tau dengan cara tersebut salah satu diantara mereka ada yang berbaik hati untuk mengantarkan dirinya ke ruang kepala sekolah. Tapi, lagi-lagi diantara mereka tidak ada yang menggubrisnya melainkan mereka segera meninggalkan gadis aneh ini.
“Eh, eh, kalian mau kemana? Kasih tau kenapa sih dimana kantor kepala sekolah. Urgent nih!”
Serentak kedua cowok tersebut menatap Via seolah-olah bertanya “Itu urusan gue?” dan kini gantian Via yang diam seribu bahasa. Pandangannya menyapu seluruh gedung. Sebelum dirinya dilahap oleh kedua cowok tersebut, dirinya membaca sebuah plank yang bertuliskan “Ruang Kepala Sekolah” dan dirinya segera mengibrit meninggalkan keduanya yang hanya bisa terbengong-bengong melihat gadis mungil bernama Via tersebut karena gadis tersebut memakai seragam yang berbeda.
Ω Ω Ω
Semua mata siswa-siswi XI IPA 4 tertuju pada satu objek yang berada di depan kelas. Via, gadis mungil yang menggunakan seragam lusuh, jelas bukan seragam kebanggaan Purna. Kegiatan itu membuat Via sedikit salah tingkah prihalnya tatapan mereka seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang aneh. Tatapan penuh tanya. Tapi, Via tidak mengambil pusing akan tatapan seluruh penghuni kelas XI IPA 4. Dirinya masih tidak menyangka bisa menjadi bagian sekolah ini. Setelah Via terkagum-kagum akan gedung sekolah ini, ia pun terkagum-kagum pada kelas yang ia tempati saat ini. Jauh berbeda dengan sekolahnya dahulu. Sampai-sampai Via sedikit kaget ketika dirinya diperintahkan untuk menjelaskan kepindahannya ini. Via menghela napas sebentar dan memulai bercerita.
Vianinda Paradise. Gadis mungil yang sejak berumur 4 tahun berada di panti asuhan. Kedua orang tuanya meninggal pada saat terjadi kebakaran di rumahnya. Dirinya sadar akan keterbatasan ekonomi yang ia miliki, ia semakin rajin dalam belajar untuk meraih cita-cita yang selama ini ia harap-harapkan, yaitu menjadi dokter spesialisasi kandungan. Cita-cita yang begitu tinggi untuk gadis yatim-piatu seperti dirinya. Tapi, semua itu tidak menyurutkan niatnya untuk menggapai impiannya yang begitu indah. Dia selalu banyak membaca. Buku-buku yang ia dapatkan dari sumbangan benar-benar dimanfaatkan untuk menambah ilmunya.
Dia sudah tercatat menjadi siswi cerdas sejak dirinya masih menikmati bangku sekolah dasar. Awal prestasinya ia raih sejak kelas 4 SD ketika mengikuti cerdas cermat antar kecamatan. Sudah banyak piagam dan piala yang ia miliki. Ketika SMP pun ia mengikuti olimpiade Fisika dan mendapat pelatihan khusus. Ketika SMA, kelas X ia bersekolah di SMA yang tergolong SMA biasa saja dibandingkan dengan SMA Purna Dharma. Ketika itu SMA Purna Dharma sedang mengadakan perlombaan yang kebanyakan pengikut perlombaan itu adalah kelas XI dan XII. Perlombaan itu dibagi beberapa bagian: akademik IPA, akademik IPS, story telling, speech contest, dan perlombaan non-akademik. Via yang masih kelas X mewakili sekolahnya dalam perlombaan ini. Kepala sekolah dan kepala yayasan turut serta menyaksikan perlombaan akbar itu dan melihat Via yang memiliki kemampuan luar biasa untuk ukuran siswa kelas X dapat menghipnotis keduanya. Sehingga, setelah kejadian tersebut dirinya mendapatkan kesempatan untuk bersekolah di SMA Purna Dharma dengan beasiswa full. Dan faktanya, Via yang seharusnya duduk di kelas X di sekolahnya dulu, kini dirinya telah menginjakan kaki di bangku kelas XI. Via yang beruntung. Kerja keras bisa merubah dirinya.
Ω Ω Ω
Beberapa bulan Via menikmati sekolah di SMA Purna Dharma, benar-benar menunjukan bahwa dirinya memang layak mendapatkan beasiswa full tersebut. Kehidupannya tidak seperti sinetron-sinetron yang ada adegan ngelabrak. Sejauh ini kehidupan dia fine-fine aja. Awalnya, dia memiliki rasa takut juga jika harus dapat hujatan dan hinaan dari teman-temannya mengingat dirinya bersekolah disitu karena mendapat beasiswa. Tapi, dia tidak menyangka teman-temannya sangat baik padanya. Begitu pula dengan Tian Fernando dan Rendra Puja Lesmana. Dua cowok yang ia temui ketika bertanya letak ruang kepala sekolah. Dan pertemuan kedua, mereka bertemu di ruang ekskul Scientific. Ekskul yang isinya anak-anak yang biasa mengikuti perlombaan dalam bidang akademik IPA. Dari kejadian itu, mereka akhirnya menjadi akrab seperti saat ini. Saling berbagi soal dan materi. Tadinya, belum ada seorang pun yang bisa mendekati Tian dan Rendra. Jadi, Via lagi-lagi beruntung bisa berteman dengan mereka yang menurut anak-anak Purna adalah pangeran Purna Dharma. Tian dan Rendra tidak seperti yang dibicarakan orang lain. Kaku dan misterius. Padahal Tian dan Rendra memiliki sisi humoris yang sangat kuat. Jika Via disamping mereka berdua bisa ketawa sampe sakit perut karena ulah konyol dua pangeran Purna ini. Dan hanya Via yang dapat menikmati kesempatan langka ini.
Beberapa minggu lagi, Via cs akan mengikuti perlombaan kembali. Kali ini yang mengadakan perlombaan adalah salah satu SMA Negeri di Lampung. Via, Tian dan Rendra masuk dalam satu tim. Mereka benar-benar berlatih secara intens dan berusaha keras walaupun mereka sering memenangkan perlombaan, semua itu tidak menjadikan mereka sebagai pribadi yang tinggi hati. Via benar-benar beruntung. Dahulu, dirinya hanya dapat mengandalkan buku-buku sumbangan, kini dirinya mampu menikmati buku-buku di perpustakaannya yang lengkap. Via benar-benar menikmati semua ini. Ditambah dengan kedua temannya yang bisa diajak sharing yang menyebabkan pengetahuan dirinya semakin bertambah.
Ω Ω Ω
Hari H pun tiba. Supporter SMA Purna Dharma sudah memadati ruang kelas yang digunakan untuk perlombaan akademik IPA berkelompok. Tim Purna Dharma akan bersaing dengan tim Bakti Luhur beberapa menit lagi. Setelah meminta doa kepada guru pendamping, Tim Purna Dharma yang beranggotakan Via, Tian dan Rendra sudah siap di tempat yang telah disediakan. Pertandingan dimulai dan berlangsung sangat memanas. Score dipapan terus kejar-kejaran. Seri. Soal terakhir untuk menentukan pemenang. Soal Biologi. Tapi, sebelum soal dibacakan, tiba-tiba salah seorang siswa dari tim lawan (Bakti Luhur) menekan bel dan meminta ijin bicara.
“Maaf, bapak dan ibu panitia, saya melihat siswi Purna melihat catatan. Jadi, ini jelas mutlak sekolah kami yang menang,”
Sekejap suasana ruangan langsung ricuh, semua mata tertuju Via yang tidak tau apa-apa. Via hanya bisa terbengong-bengong.
“Kenapa Anda baru angkat bicara? Apa Anda punya bukti?” tanya panitia pada siswa Bakti Luhur yang berbadan tinggi besar dengan kacamata tabal bertengker di wajahnya.
“Ya, saya punya bukti. Coba saja Bapak periksa di kotak pensil miliknya,”
“Serahkan kotak pensilmu!” ujar Pak panitia pada Via.
“Hah? Saya nggak melihat catatan, Pak. Serius. Bahkan saya nggak tau dikotak pensil saya ada catatan. Catatan apa juga saya nggak tau,” ujar Via membela diri.
“Serahkan!” paksa panitia. Via menyerahkan kotak pensil miliknya yang sudah lusuh. Dan benar saja, di dalam kotak pensil berwarna pink yang sudah pudar itu terdapat selembar catatan dan panitia yang memiliki kumis tebal itu sontak membacakan isi yang ada di lembar kertas tersebut.
“Cabe setengah kilo, bawang merah lima ribu, bawang putih seperempat, ini sih catatan belanja,” ujar panitia tersebut sambil mengulumkan senyum dan semua penghuni ruangan tertawa mendengar isi catatan tersebut. Wajah siswa Bakti yang memberitahu insiden itu tertunduk malu.
“Baik, perlombaan dengan soal terakhir kami lanjutkan. Tidak ada catatan mencurigakan, yang ada hanya catatan belanja. Dan bukan itu soal yang akan dipertanyakan. Baik, inilah soalnya. Ketika terjadi mitosis, proses pewarisan sifat pada sel anak akan menjadi tidak merata, bila terjadi gangguan pada salah satu organel. Organel yang dimaksud adalah?” ujar panitia pemberi soal.
Tanpa pikir panjang, Via membunyikan bel dan menghela napas sebentar kemudia ia segera menjawab, “sifat organisme ditentukan oleh gen yang terdapat dikromosom. Bila pada proses pewarisan sifat tidak merata, artinya pembagian kromosom pada saat mitosis tidak merata. Pada fase metafase mitosis, semua kromosom dengan perantaraan sentrosom, melekat pada spindel. Jadi, bila proses pembentukan spindel mengalami gangguan, akan berakibat terjadinya ketidakseimbangan penyebaran kromosom pada sel-sel anak hasil mitosis. Bahan pembentuk benang spindel berupa organel sel yaitu mikrotubulus,”
Sempurna! Jawaban yang begitu sempurna yang mengantarkan tim Purna Dharma menjadi juara. Semua siswa-siswi pada memberi selamat untuk mereka bertiga. Masih ada sisa-sisa tertawaan karena kejadian tadi ketika di ruangan.
“Kok, anak itu bisa ngomong gitu lah?” tanya Rendra.
“Iya, aku sampe kaget loh. Ternyata Cuma catatan belanja. Herannya kok dia bisa tau?” tambah Tian.
Via hanya tertawa dan berkata ,”mungkin dia mendengar tadi pagi aku bilang, catatan ini jangan sampe hilang, catatan yang sangat penting. Kemudian aku masukin deh nih catatan di kotak pensilku,” jelas Via.
Semuanya tertawa. Tertawa karena kejadian lucu dan Purna Dharma keluar sebagai pemenang seperti biasanya. Lomba kali ini sangat menyenangkan.
TAMAT


0 komentar:
Posting Komentar